JAGUNG SEBAGAI MAKANAN POKOK - ZAHROTUS SYIFA

            


 Jagung adalah tanaman serealia yang berasal dari benua Amerika, tepatnya dari negara Meksiko. Jagung merupakan tanaman pangan dunia yang terpenting selain gandum dan padi. Di Indonesia sendiri, jagung banyak dimanfaatkan untuk pakan ternak, serta bahan dasar industri makanan dan minuman, tepung, minyak, dan lain-lain. Namun, tak banyak yang mengetahui bahwa jagung tidak selalu berwarna kuning. Jagung ungu merupakan salah satu komoditas pangan yang masih kurang dikenal sebab belum banyak dibudidayakan di Indonesia.

            Jagung merupakan tanaman model yang menarik, khususnya di bidang biologi dan pertanian. Sejak awal abad ke-20, tanaman ini menjadi objek penelitian genetika yang intensif, dan membantu terbentuknya teknologi kultivar hibrida yang revolusioner. Dari sisi fisiologi, tanaman ini tergolong tanaman C4 sehingga sangat efisien memanfaatkan sinar matahari. Dalam kajian agronomi, tanggapan jagung yang dramatis dan khas terhadap kekurangan atau keracunan unsur-unsur hara penting menjadikan jagung sebagai tanaman percobaan fisiologi pemupukan yang disukai.

            Di dalam satu buah jagung atau setara dengan 100 gram biji jagung terdapat sekitar 80–100 kalori. Selain itu, jagung juga mengandung beragam nutrisi, seperti serat, protein, karbohidrat, mineral, dan vitamin. Jagung pun memiliki beragam antioksidan, termasuk asam fenolat, zeaxanthin, antosianin, dan lutein.

            Jagung tidak hanya mengandung karbohidrat yang bisa menjadi pengganti nasi, terdapat pula nutrisi lainnya. Mengutip Everyday Health, Samantha Cassetty, RD, ahli gizi terdaftar yang berbasis di New York City mengatakan bahwa jagung merupakan sumber serat, magnesium, fosfor, mangan, selenium, dan tiamin yang sangat baik. Jagung termasuk sebagai biji-bijian, tetapi berbeda dengan yang lain, jagung secara alami bebas gluten. Oleh karena itu, mari kita mengkinsumsi jagung sebagai pengganti makanan pokok yang baik untuk kesehatan tubuh dan menjaga daya tahan tubuh kita.

Komentar