BERKUNJUNG KE RUMAH NENEK - RAYYAN SYAUQI FIRDAUS

Aroma kayu manis dan jahe yang hangat menyambutku saat aku membuka pintu rumah nenek. Udara di dalam rumah terasa lebih dingin dan lembap dibanding di luar, tapi terasa nyaman dan menenangkan. Nenek duduk di kursi goyang di dekat jendela, tangannya sibuk merajut benang wol berwarna merah marun. Senyumnya merekah saat melihatku, matanya yang teduh berbinar seperti bintang di malam hari.

“Kamu sudah datang, Nak,” sapa nenek, suaranya lembut dan menenangkan seperti alunan lagu pengantar tidur.

Aku mendekat dan mencium pipinya yang berkerut halus. “Nenek, aku kangen banget sama kamu.”

Nenek mengelus rambutku dengan lembut. “Nenek juga kangen kamu, Nak. Ayo, duduk sini. Nenek sudah membuatkan teh jahe hangat untukmu.”

Aku duduk di kursi kayu di samping nenek, menikmati kehangatan teh jahe yang menenangkan tenggorokanku. Aroma kayu manis dan jahe yang khas bercampur dengan aroma kayu tua dan tanah basah yang khas dari rumah nenek, membuatku merasa tenang dan damai.

“Nenek, ceritakan dong cerita tentang masa kecil nenek,” pintaku.

Nenek tersenyum, matanya berbinar-binar mengenang masa lalunya. “Dulu, rumah nenek di tengah sawah yang luas. Nenek punya banyak teman, anak-anak petani yang suka bermain bersama di sawah. Kami berlarian di antara rumpun padi, menangkap ikan di sungai kecil, dan bermain petak umpet di balik pohon kelapa.”

Nenek menceritakan masa kecilnya dengan penuh semangat, suaranya berbisik pelan seperti angin sepoi-sepoi yang menyapa daun-daun. Aku larut dalam cerita nenek, membayangkan masa kecilnya yang penuh keceriaan dan kesederhanaan. Aku juga teringat masa kecilku sendiri, saat aku masih sering bermain di halaman rumah nenek, memetik buah mangga di pohon tua, dan bermain layangan di padang rumput yang luas.

“Nenek, dulu nenek punya banyak teman, ya?” tanyaku.

“Ya, Nak. Nenek punya banyak teman. Kami saling membantu, saling berbagi, dan saling menyayangi. Kami hidup sederhana, tapi bahagia. Kami selalu bersyukur atas apa yang kami punya,” jawab nenek.

“Nenek, sekarang nenek masih punya teman?” tanyaku lagi.

Nenek tersenyum. “Nenek masih punya teman, Nak. Teman-teman nenek yang dulu sudah banyak yang meninggal. Tapi, nenek masih punya kamu, cucu-cucu nenek yang selalu datang menjenguk nenek. Itu sudah cukup membuat nenek bahagia.”

Aku memeluk nenek erat-erat. “Nenek, aku sayang banget sama nenek.”

“Nenek juga sayang kamu, Nak,” jawab nenek, suaranya bergetar menahan tangis.

Sore itu, aku menghabiskan waktu bersama nenek. Kami bercerita, bercanda, dan tertawa bersama. Aku mendengarkan cerita-cerita nenek tentang masa mudanya, tentang cinta pertamanya, tentang perjuangannya dalam hidup. Aku juga menceritakan tentang hidupku, tentang sekolahku, tentang cita-citaku.

Saat matahari mulai terbenam, aku pamit pulang. Nenek mengantar aku ke pintu, matanya berkaca-kaca. “Nenek sayang kamu, Nak. Jangan lupa jenguk nenek lagi ya.”

“Iya, Nek. Aku pasti akan sering jenguk nenek,” jawabku.

Aku mencium pipi nenek dan berjanji untuk kembali lagi secepatnya. Aku berjalan pulang dengan perasaan hangat dan penuh syukur. Aku bersyukur memiliki nenek yang penuh kasih sayang, yang selalu menemaniku dalam suka dan duka. Aku bersyukur bisa merasakan kehangatan rumah nenek, tempat di mana aku selalu merasa dicintai dan dihargai.

Aku tahu, suatu saat nanti, aku akan kehilangan nenek. Tapi, kenangan tentangnya akan selalu terukir di hatiku. Kenangan tentang rumah nenek, tentang aroma kayu manis dan jahe yang hangat, tentang cerita-cerita nenek yang penuh makna, tentang kasih sayang yang tak ternilai harganya.


Komentar