CANDI SINGOSARI: SAKSI BISU KITA

Kelompok 4 XI-02 :
- Ahmad Nur Wahid 
- Muhammad Sholeh Azizi
- Muhammad Richard Ananda
- Tiara Lintang Suroyya
- Khirani Kusuma

Candi Singosari: Saksi Bisu Kita

Sebagai siswa Madrasah Aliyah, pasti kita tidak asing dengan Candi Singisari. Sekolah kami hanya berjarak 500,0 m dari Candi Singosari, sebuah situs bersejarah yang megah dan telah menjadi bagian akrab dalam kehidupan kita sehari-hari. Setiap pagi, Candi ini berdiri dalam perjalanan ke sekolah—sebuah raksasa sunyi yang setia mengawasi kota kecil kami.

Candi ini sungguh menakjubkan. Bahkan dari kejauhan, strukturnya yang menjulang mampu menarik perhatian siapa saja bahkan para turis dari luar negeri. Ukiran-ukiran rumit pada dindingnya, meski telah termakan usia, masih bercerita tentang kejayaan masa lampau. Dari pelajaran sejarah di sekolah, saya tahu bahwa Candi ini dibangun pada masa pemerintahan Raja Kertanegara dari Kerajaan Singosari sekitar abad ke-13. Candi Singosari bukan sekadar tumpukan batu tua, tetapi bukti nyata kecerdasan arsitektur dan kehalusan seni nenek moyang kita.

Yang paling menarik perhatian saya adalah kontras yang begitu jelas antara kemegahan kuno Candi dan hiruk-pikuk modern di sekitar kita. Motor berlalu-lalang dengan suara bising, pedagang sibuk menawarkan dagangan mereka, dan anak-anak bermain riang di sekitarnya—semua ini menciptakan pemandangan kehidupan sehari-hari yang dinamis di bawah naungan monumen kuno ini. Kontras ini menjadi pengingat yang kuat bahwa sejarah bukan hanya sesuatu yang tertulis dalam buku pelajaran, melainkan bagian yang menyatu dengan kehidupan kita saat ini.

Mengunjungi Candi Singosari adalah salah satu pilihan tepat di waktu luang. Berjalan-jalan di sekitarnya, sembari membayangkan bagaimana kehidupan orang-orang di masa lalu yang pernah melewati jalan yang sama. Mencoba menelusuri ukiran-ukiran yang mulai memudar, berusaha memahami kisah yang mereka sampaikan. Rasanya seperti meditasi—kesempatan untuk terhubung dengan masa lalu dan menghargai warisan yang ditinggalkan oleh generasi sebelumnya.

Bagi masyarakat kami, Candi Singosari lebih dari sekadar situs bersejarah. Candi ini adalah sumber kebanggaan, tempat untuk mempelajari warisan budaya, serta simbol identitas kita bersama. Sebagai seorang siswa yang tinggal dan belajar begitu dekat dengan tempat istimewa ini, saya merasakan hubungan mendalam dengan sejarahnya sekaligus tanggung jawab untuk membantu melestarikannya bagi generasi mendatang. Candi ini adalah saksi bisu perjalanan waktu, dan memiliki Candi ini sebagai "tetangga" adalah sebuah kehormatan yang luar biasa.

Komentar