Kisah ini terjadi saat aku duduk di kelas 8. Saat itu aku sedang duduk termenung menunggu jemputan di depan kelasku. Samar-samar kudengar suara keributan dari lapangan sekolah. Karena penasaran, aku pun bangkit dan menuju lapangan sekolah untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. "Mereka lagi" batinku begitu mengetahui sumber keributan. Mereka, Kirana dan gengnya, anak kelas 8C yang sedang mengerumuni seorang siswi kelas 8A yang terkenal pintar dan pendiam.
Dinda Larasati, namanya. Dia murid baru di sekolahku. Aku dan dia satu kelas, tapi kami tidak pernah berbincang-bincang sebelumnya. Dia sangat pendiam namun terkenal pintar apalagi di mata pelajaran eksakta seperti matematika. Ketika berpapasan dengan orang lain, dia hanya tersenyum tipis. Jika diajak berbicara, dia tidak terlalu pandai merespon namun dia adalah pendengar yang baik. Saat jam istirahat dia jarang sekali keluar kelas, kerjaannya hanya duduk dan membaca buku. Mungkin itulah kenapa aku segan mengajaknya berbicara. Terlebih, aku bukan orang yang pandai memulai topik pembicaraan.
Seperti biasa kelima siswi 8C itu, Kirana bersama gengnya, selalu bersikap semena-mena terhadap orang yang dianggapnya lemah. Mereka melakukan hal tersebut karena ingin mencari ketenaran dan dianggap keren. Terlebih lagi Kirana, yang merupakan ketua geng, orang tuanya merupakan donatur sekolahan. Kirana juga merupakan tetanggaku. Di lingkungan rumahnya pun dia terkenal sangat narsis dan sombong. Miris memang, disaat tujuan sekolah bukan menuntut ilmu, namun digunakan sebagai ajang mencari ketenaran dengan menindas yang terlihat lemah.
Saat itu aku hanya diam mematung, menatap tidak tega ke arah Dinda yang sedang berusaha menahan serangan demi serangan yang diberikan oleh kelima anak tersebut. Dia, Dinda, teman sekelasku. Hanya bisa diam tanpa melawan. Dia tak berdaya. Tidak ada lagi siapapun disana, semua siswa-siswi dan dewan guru sudah pulang beberapa saat yang lalu, kecuali Kirana dan gengnya yang sedang merundung Dinda, dan aku yang hanya bisa berdiri tanpa berbuat apa-apa.
Sungguh aku tidak tega melihatnya, tapi lagi-lagi aku hanya menjadi penonton.Aku tidak berani melawan mereka, karena siapapun yang berani melawan mereka akan habis dikeroyoknya. Kulihat Dinda meneteskan air mata. Dia menangis. Bahunya bergetar. Sedari tadi dia memeluk tasnya sambil terduduk dan menunduk. Setelah puas merundung, mereka berlima pun pergi. Kirana pun berdiri, membersihkan debu yang menempel di baju dan tasnya. Mengibaskan kerudungnya, mengepakkan baju dan rok panjangnya, kemudian berjalan. Setibanya Dinda di dekatku, aku menghampirinya dan berkata "Din aku minta maaf ya lagi-lagi aku tidak bisa membantumu". Dinda menjawab "Tidak apa-apa, ini bukan salahmu dan kamu tidak perlu minta maaf. Ya sudah aku pulang dulu ya, ibuku pasti sudah menunggu di rumah", lalu dia tersenyum dan pergi ke arah gerbang sekolah. Aku pun semakin merasa bersalah saat melihat senyumannya.
Sekitar seminggu setelah kejadian itu, aku mendengar kabar bahwa Kirana dilarikan ke rumah sakit karena dia mengalami kecelakaan saat perjalanan pulang dari sekolah. Sebagai tetangga, tentu aku datang menjenguknya di rumah sakit. Tidak lama setelah kedatangan di rumah sakit, aku mendengar ada yang mengetuk pintu kamar inap Kirana, kemudian seseorang masuk sambil mengucapkan salam. Sontak aku menoleh, dan betapa terkejutnya aku saat melihat bahwa yang datang adalah Dinda.
Kenapa dia datang kesini? Apa dia ingin balas dendam? Aku pandangi Dinda, dia membawa keranjang kecil berisi buah-buahan di tangannya. Lalu dia memberikan keranjang tersebut kepada Kirana tepat di depan mataku. Sungguh ironis sekali bukan? saat kejahatan malah dibalas dengan kebaikan.
Tiga minggu setelah kejadian itu, Kirana sudah sembuh dan kembali aktif masuk sekolah. Kehidupan sekolah berjalan sebagaimana mestinya. Sampai ada satu kejadian unik yang membuat orang takjub melihatnya. Saat ada orang lain yang ingin membully Dinda, tiba-tiba ada seseorang yang membelanya lalu membubarkan orang-orang yang ingin membullynya. Malahan dia menantang semua orang yang ingin membully Dinda. Dan orang tersebut, yang telah membela dan berusaha melindungi Dinda adalah Kirana bersama teman-teman gengnya.
Sejak saat itu, tidak ada lagi yang berani membully Dinda. Aku, Dinda, Kirana dan teman-temannya setiap harinya pulang bersama, di kantin bersama, dan kadang datang ke sekolah bersama. Sejak saat itu, Kirana dan teman-temannya tidak pernah membully siapapun lagi. Mereka telah benar-benar berubah. Dinda tidak pernah diganggu lagi, dan dia tidak sependiam dulu lagi. Aku, Dinda, Kirana bersama dan teman-teman, kami pun bersahabat bahkan sampai detik ini. Walaupun saat ini kami sudah duduk di bangku kelas 11 dan tidak satu sekolah lagi, terkadang saat ada waktu kami selalu meluangkan waktu untuk sekedar bermain bersama.
ANALISIS STRUKTUR CERPEN :
1. Tema : Perubahan dan Kekuatan Kebaikan
2. Tokoh dan Penokohan :
- Aku : Penakut, kurang percaya diri
- Dinda : Pendiam, tertutup, pintar
- Kirana dan teman-temannya : Sombong dan narsistik. Namun di akhir cerita mereka berubah menjadi peduli, penyayang, pelindung
3. Alur : Alur maju
4. Latar :
- Latar tempat : Sekolah, Rumah Sakit
- Latar waktu : Siang hari sepulang sekolah, seminggu kemudian, tiga minggu kemudian
- Latar suasana : Tegang dan mencekam : Saat Kirana dan teman-temannya melakukan pembullyan. Mengharukan : Saat Dinda datang ke rumah sakit menjenguk Kirana. Damai dan bahagia : Saat Kirana dan teman-temannya berubah lalu terjalin persahabatan antara tokoh Aku, Dinda, Kirana dan teman-temannya
5. Amanat :
- Kebaikan hati dan ketulusan dapat mengubah seseorang, bahkan mereka yang sebelumnya bersikap buruk atau jahat.
- Pentingnya keberanian untuk berbuat baik dan mendukung satu sama lain
- Setiap orang berhak untuk mendapatkan kesempatan kedua dan bahwa persahabatan sejati dapat tumbuh dari pengalaman yang berat.
6. Nilai yang terkandung dalam cerpen :
- Nilai sosial : Peduli terhadap sesama, empati
- Nilai moral : Kebaikan dapat mengubah segalanya, balas dendam bukan jalan terbaik
ANALISIS KEBAHASAAN CERPEN :
1. Menggunakan konjungsi waktu. Bukti :
- Saat itu aku hanya diam mematung.
- Ketika berpapasan dengan orang lain, dia hanya tersenyum tipis.
- Setelah puas merundung, mereka berlima pun pergi.
2. Menggunakan verba aksi. Bukti :
- Aku pun bangkit dan menuju lapangan sekolah untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
- Jika diajak berbicara, dia tidak terlalu pandai merespon.
- Kulihat Dinda meneteskan air mata. Dia menangis.
Menggunakan dialog. Bukti :
- "Din aku minta maaf ya lagi-lagi aku tidak bisa membantumu".
- "Tidak apa-apa ini bukan salahmu dan kamu tidak perlu minta maaf. Ya sudah aku pulang dulu ya, ibuku pasti sudah menunggu di rumah"
Komentar
Posting Komentar