GARIS TAKDIR - ALIYA MUTIA HANUM


“Nggeh, ma. InsyaAllah, doakan semoga aku bisa menjadi manusia bermanfaat untuk orang lain.” Jawabku.
“Uma selalu mendoakan semua putra putri agar sholih-sholihah dan bermanfaat bagi sekitar.” Ucap uma
“Semoga aku bisa membanggakan Abi dan Uma, bisa jadi anak sholihah seperti harapan Uma.” Ucapku tersenyum, lalu memeluk Uma.

“Aamiin nak...” Kata Uma ku turut mengaminkan doaku, sambil tersenyum dan mengelus kepalaku.
Begitulah percakapanku dengan Uma sore itu. Kurang menghitung hari aku akan berpisah dengan Uma, berpisahnya bukan tanpa alasan karena pada saat itu aku akan pergi menuntut ilmu ke Pesantren.
Namaku Meerlyana Kafka Nafisah, “Fisa” begitu biasanya teman-teman menyapaku. Aku terlahir dari keluarga yang sudah sepatutnya aku syukuri karena kata mereka hidupku enak, dan aku dirayakan oleh keluargaku. Begitulah mereka melihat kehidupanku.

“Enak ya Fisa, kamu dapat perhatian penuh dari keluargamu.” Kata Shaqila, temanku.
“Hmm...Alhamdulillah.” Jawabku.
Shaqila Naura Fadli, yang biasa dipanggil Shaqila. Dia adalah teman dekatku. Karena aku sangat merasa cocok dengannya, juga nyaman berteman dengannya. Sudah 1 bulan terhitung aku hidup di lingkungan Pesantren. Teman yang pertama kali ku kenal yaitu Shaqila. Alhamdulillah nya aku mudah membaur dengan teman-temanku. 1 bulan di Pesantren aku mulai merasa nyaman dan terbiasa.
Minggu ini di Pesantren membuka pengiriman untuk santri. Aku juga dikunjungi oleh Abi, Uma, Abang Zayyan dan Zafran adikku.

“Assalamu’alaikum, gimana nak kabarnya? Sehat-sehat kan? Gimana sudah betah sama suasananya?” tanya Uma.
“Wa’alaikum salam Uma, Alhamdulillah Fisa sehat Fisa sudah betah sama suasana disini. Temannya baik-baik.” Jawabku seraya mencium tangan Uma.
“Gimana nak, fisa nyaman kan?” Tanya Abi.
“Alhamdulillah Abi, Fisa sudah nyaman disini.” Ucaрku.
“Alhamdulillah kalau begitu.” Ucap Abi.
“Wah gimana nih Adik tercantik Abang yang udah 1 Bulan di Pesantren.” Ucap Abang menggodaku. (Yaa. dia bilang Aku adik tercantik karena aku anak perempuan sendiri di keluarga).
“Apa sih Abang ini, sukanya nyari gara-gara.” Jawabku sambil ngomel
“Kok marah-marah sih, kan Abang cuma tanya.” Kata Abangku.
“Sudah-sudah, ini waktunya ngunjung Adiknya Kok malah adu mulut,” ujar Uma melerai.
“Memang Abang ini gak bisa diam,” timpal Zafran.

Begitulah keseharianku jika di rumah, bertengkar dengan Abang. (Bukan bertengkar sih, lebih kayak Abang sering goda in aku).
Waktu pengiriman pun berakhir, aku berpamitan pada Abi, Uma, Abang Zayyan dan Zafran. Ketika berpamitan, Abi bilang padaku begini
“Yang pintar ya nak ngajinya.”
“Adek harapan Uma, semoga diberi kemudahan dalam menghafal dan segala urusannya.” Tambah Uma.
“Nggeh Uma, Aamiin...” Jawabku sambil berkaca-kaca.
Ya, di Pesantren aku mengikuti Program Tahfidzul Qur'an. Yang dimana setiap santri huffadz wajib menyetorkan hafalan setiap harinya, jadi setiap hari aku harus menambah hafalan untuk setoran, juga tidak boleh meninggalkan muroja’ah hafalan yang sudah disetorkan. Syukur nya aku punya teman dekat seperti shaqila yang mau sama-sama berjuang dan serius dalam menghafal.

Sebenarnya tahfidzaul Qur'an itu tidak sulit kok, selagi yang menjalaninya niat menghafal karena Allah dan sungguh-sungguh. Aku terlahir dari kedua orangtua yang sangat mengedepankan ilmu Agama. Abiku seorang yang faham Agama, beliau sangat faham dunia per-kitab-an, Kitab nya tertata rapi pada lemari besar di Ruang Muthola'ah. Dan Uma ku seorang wanita sholihah yang sudah khatam Al-Qur’an 30 juz Bilghoib.

Sedari kecil, aku, abang dan adikku sudah ditempa dengan berbagai ilmu Agama, juga sudah diajari menghafal Al-Qur'an. Abangku sudah mengkhatamkan Al-Qur'an pada umurnya yang masih menginjak 15 Tahun. Adikku yang sekarang masih berumur 10 Tahun sudah menghafal Al-Qur'an 8 juz.
Abi dan uma ku sangat mengharapkan putra-putrinya bisa menghafal Al-Qur'an, juga mengamalkannya.

Terkadang aku juga pernah berada di titik terlelahku. Saat menurutku ayat nya sedikit sulit, atau saat aku sedang lelah banyak fikiran. Jika sudah seperti itu, kadang pengen nya nyerah aja. Tapi lagi-lagi ada kedua orangtua, Abang dan Adikku yang selalu mensupport diriku. Jika aku merasa ingin menyerah, aku pasti akan mengingat mereka. Bagaimana kerja keras Abi untuk keluarga kami, Umaku yang setiap sepertiga malam, memaksakan diri untuk terbangun dan sujud menghadap sang Ilahi. Di sujud panjang beliau tergantung lantunan doa-doa terbaik untuk keluarganya, terutama diperuntukkan putra-putrinya.
Kehidupan ku di Pesantren kini berjalan 3 Tahun, Alhamdulillah rasa syukur selalu ku panjatkan pada sang Ilahi Rabbi. Kini, setoran hafalanku kurang 4 juz saja. Tidak berhenti sampai disitu, perjuanganku masih baru saja akan dimulai.

“Nak, jika seseorang menghafalkan Al-Qur'an sudah khatam, maka mereka sesungguhnya belum benar-benar selesai. Perjuangan yang sesungguhnya masih akan mereka mulai. Menghafal Al-Qur'an itu mudah, yang sulit adalah menjaga hafalan Al-Qur'an. Bagaimana caranya mereka bisa menjaga apa yang sudah mereka hafal. Kaгeлa orang yang melupakan hafalannya, dosanya sangat besar.” Tutur Abiku
“Jadi selalu jagalah hafalan Al--Quran mu Fisa. Tidak hanya itu, jaga akhlak serta perilakumu. Karena sesungguhnya perhiasan seorang perempuan yaitu Akhlaqul Karimah.” Tambah Abi
“Aamiin... InsyaAllah Abi. Doakan Fisa agar bisa menjaga diri Fisa dari hal-hal yang dilarang serta istiqomah menjaga hafalan Fisa.” Ucapku.
“Aamiin, semoga ya nak.” Kata Abiku turut mengaminkan.
Memang Percakapanku dengan Abi tidak jauh-jauh dari membahas sesuatu yang berkaitan denganku, terutama masa depanku.

Disuatu hari aku berada di titik terlelahku, karena pada saat itu aku sedang menyiapkan tasmi’ juz 1-30 Bilghoib. Perasaanku pada saat itu campur aduk, antara takut (tapi memang lebih banyak takutnya), grogi, senang, sedih jadi satu. Aku akan melakukan tasmi juz 1-30 yang dimulai dari Ba'da lsya, sampai keesokan harinya. Jadi pada malam hari aku tetap melaksanakan tasmi’ tanpa sempat tidur.
Tasmi’ pun dimulai, teman-teman ku banyak sekali yang ikut menyimak. Keluargaku pun ikut hadir pada saat itu. Malam panjang sudah terlewati, tersisa 11 juz yang masih harusku baca. Antusias teman-teman ku tidak berubah. Meski mereka mengorbankan tidurnya pada malam hari. Juz terakhir, Juz 30. Saat itu, waktu menunjukkan pukul 13:47. Rasanya pada saat itu aku ingin menangis, lagi-lagi aku memanjatkan rasa syukur pada sang pencipta, karena aku telah berhasil melewati babak awal perjuanganku.

Tasmi’ juz 1-30 Bilghaib telah selesai, waktu menunjukkan pukul 14:32. Tasmi’ ditutup dengan aku yang membaca do'a khotmil Qur'an. Setelah itu, sedikit mauidhoh dari Kyai Abdul Karim (pengasuh Pesantrenku) serta ditutup dengan doa dari beliau.
“Assalamu’alaikum Abah, Umik. Minta doa untuk Fisa, semoga bisa istiqomah dalam menjaga hafalannya.” Kata Umaku (saat itu aku sedang sowan menghadap Abah dan Umik). Memang di Pesantren, para santri biasa menyebut beliau Abah dan Umik.
“Aamiin...semoga nak Fisa bisa dengan baik dan istiqomah menjaga hafalannya.” Jawab Abi. “Aamiin...Nak Fisa ini memang anaknya rajin menambah setoran hafalan. Alhamdulillah, Barakallah sekarang sudah khatam. Dijaga ya nak hafalannya.” Umik menimpali
“Lho, ini sekarang mau izin pulang ta?” Tanya Umik. Memang sudah menjadi kebiasaan atau tradisi di Pesantrenku, setelah tasmi’ biasanya para santri izin pulang. Karena menurut mereka untuk reward atau refreshing bagi dirinya.
Uma pun menjawab, “Nggeh Umik, mau minta izin Fisa dibawa pulang dulu. Pangestunipun, mau diajak umroh sekeluarga.” disitu aku langsung kaget, karena Abi maupun Umaku, bahkan Abang dan Adikku tidak memberitahu aku apa-apa.
“Barakallah, semoga diberi kelancaran dalam Ibadahnya dan selamat sampai pulang lagi ke Indonesia.” Umik mendoakan.
“Aamiin...” Ucap Abi, Uma, dan aku bersamaan.

Setelah sowan dan mengurus perizinan pulang, aku akhirnya pulang ke rumah. Di Perjalanan aku tidak berhenti bertanya pada keluargaku. “Kok gak bilang-bilang?”, “Sejak kapan punya rencana umroh sekeluarga?”, Cerocos ku tak berhenti. Keluargaku hanya bisa diam dan tak berhenti menertawakanku yang heboh sendiri.
5 hari setelah aku pulang, kami sekeluarga akan berangkat melaksanakan Ibadah Umroh. Ternyata perlengkapan yang aku butuhkan, sudah dipersiapkan jauh-jauh hari sebelum aku pulang. Kami pun berangkat dari Bandara Internasional Juanda di Surabaya. 10 jam perjalan kami lewati di atas udara, akhirnya kami mendarat di Bandar Udara Internasional King Abdul Aziz di jeddah.

Kami sudah berada di hotel, untuk istirahat sejenak sebelum memulai Ibadah Umroh. Perasaanku sangat senang dan terharu karena Allah masih mau memanggil hamba-Nya yang berlumuran dosa ini. Pertama kali aku menginjakkan kaki di Masjidil Haram dan melihat langsung Ka'bah, kiblat seluruh umat muslim. Tak terasa, air mataku jatuh. Aku menangis dihadapan Ka'bah, memohon pada Rabb-ku agar bersedia mengampuni dosa-dosa hamba-Nya yang menumpuk.
Aku bersama keluargaku berdesakan agar dapat memegang sekaligus mencium Ka'bah, disitu tangisanku benar-benar pecah tak terbendung.

4 hari Kemudian aku dan keluargaku melajutkan ziarah ke Raudhah (Makam Rasulullah saw) di Madinah. Rasa rindu pada baginda Rasul sangat memuncak. Lagi-lagi tangisan haru tumpah tak tertahan, ketika aku berhasil memasuki Raudhah. Dan syukur selalu kupanjatkan mengetahui aku mendapat shof terdepan. Aku pun melaksanakan sholat dan berdo'a sebanyak-banyaknya, juga menyampaikan salam rindu umatnya untuk baginda Rasulullah SAW.

Aku benar-benar bersyukur atas skenario takdir Tuhan yang telah ditulis untukku. Betapa Allah Sang pembuat skenario terbaik. Alam semesta masih mau mengakuiku sebagai hamba-Nya

TAMAT


Struktur Intrinsik

1. Tema
Perjuangan seorang anak perempuan dalam menghafal Al-Qur'an dan menjaga hafalannya, serta rasa syukur atas skenario terbaik dari Allah SWT.

2. Tokoh dan Penokohan

Meerlyana Kafka Nafisah (Fisa): Tokoh utama, seorang santri yang berjuang menghafal Al-Qur'an dengan dukungan penuh keluarganya. Karakternya rajin, taat, dan penuh syukur.

Uma: Ibu Fisa, digambarkan sebagai wanita sholihah, penyayang, dan mendukung anak-anaknya dalam hal agama.

Abi: Ayah Fisa, sosok yang bijak, mendukung, dan sangat paham ilmu agama.

Abang Zayyan: Kakak laki-laki Fisa, sering menggoda Fisa namun sayang terhadapnya.

Zafran: Adik Fisa, masih kecil tapi sudah hafal 8 juz, menunjukkan karakter cerdas.

Shaqila: Teman dekat Fisa di pesantren, baik dan suportif.

Kyai Abdul Karim: Pengasuh pesantren yang bijak dan penuh motivasi.

3. Alur
Alur cerita bersifat campuran:

Awal: Fisa berbicara dengan Uma sebelum berangkat ke pesantren.

Tengah: Kehidupan Fisa di pesantren, perjuangannya menghafal Al-Qur'an, dan tantangan yang dihadapinya.

Akhir: Fisa berhasil khatam tasmi' 30 juz dan dihadiahi perjalanan umroh bersama keluarganya.

4. Latar (Setting)

Latar Tempat: Rumah, pesantren, Masjidil Haram (Ka'bah), Raudhah (Makam Rasulullah di Madinah).

Latar Waktu: Sore hari sebelum berangkat ke pesantren, saat berada di pesantren (kurun waktu 3 tahun), dan saat melaksanakan umroh.

Latar Suasana: Penuh haru, semangat, perjuangan, syukur, dan kehangatan keluarga.

5. Amanat (Pesan Moral)

Bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, terutama ilmu agama.

Syukuri segala nikmat dan karunia Allah.

Hafalan Al-Qur'an tidak hanya sekadar dihafal, tetapi harus dijaga dan diamalkan.

Pentingnya dukungan keluarga dalam membangun karakter anak.

Menjaga akhlak sebagai perhiasan utama seorang muslim/muslimah.

6. Sudut Pandang
Orang pertama pelaku utama, karena cerita disampaikan melalui sudut pandang Fisa (Aku).


---

Struktur Ekstrinsik

1. Latar Belakang Sosial
Cerita ini menggambarkan kehidupan keluarga religius yang mendukung penuh pendidikan agama anak-anaknya, khususnya dalam menghafal Al-Qur'an. Selain itu, lingkungan pesantren digambarkan sebagai tempat yang kondusif untuk mendalami ilmu agama.

2. Latar Belakang Budaya

Tradisi pesantren di Indonesia yang mendukung program hafalan Al-Qur'an (tahfidz).

Kebiasaan santri yang menghormati kyai dan menjaga hubungan dengan keluarga.

Nilai-nilai budaya keluarga muslim yang mengedepankan akhlak dan pendidikan agama.

3. Nilai Agama

Pentingnya menghafal dan menjaga Al-Qur'an.

Nilai-nilai ibadah seperti tasmi’, muroja’ah, doa, dan syukur kepada Allah.

Keutamaan akhlak mulia, seperti bersabar, rendah hati, dan berbakti kepada orang tua.

4. Nilai Pendidikan
Cerita ini menekankan pentingnya pendidikan agama sejak dini, motivasi untuk berprestasi, dan dorongan untuk terus belajar meskipun ada tantangan.

5. Latar Belakang Psikologis
Cerita menggambarkan perjuangan Fisa dalam menghadapi rasa lelah, ketakutan, dan tantangan, tetapi tetap termotivasi oleh dukungan keluarganya dan keinginan untuk menjadi anak yang sholihah.

Komentar