MELEPASKAN UNTUK TUMBUH BERSAMA - IKRIMAH THUFAILAH FAQIYYAH

Di sebuah kota kecil yang tenang, tinggal dua sahabat bernama Shania dan Hakya. Sejak kecil, mereka selalu bersama, bermain, belajar, dan saling mendukung. Namun, ada satu perbedaan yang cukup mencolok di antara mereka.Shania, yang selalu merasa cukup kuat, memiliki keyakinan bahwa ia bisa mengatasi segala tantangan dengan kekuatan dirinya sendiri. Sementara itu, Hakya, meski cerdas dan berbakat, merasa tak pernah cukup tanpa bantuan orang lain—terutama Shania.

Suatu hari, Rina mendapat tawaran beasiswa untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Ia merasa ini adalah kesempatan emas yang sudah lama dinantikannya. Namun, di balik kebahagiaan itu, ada kegelisahan yang mengganggu pikirannya. Dinda. Ia tahu, tanpa kehadirannya, Dinda akan merasa sangat kesepian.

Pagi itu, setelah menerima surat beasiswa, Shania pergi menemui Hakya di rumahnya. Hakya sedang duduk di teras rumah, menatap langit yang mendung. Wajahnya terlihat cemas.

"Ada apa, Ky?" tanya Shania sambil duduk di sebelah Hakya.

Hakya menghela napas panjang. "Aku dengar kamu dapat beasiswa ke luar negeri. Aku... aku takut kalau kamu pergi, aku bakal sendirian."

Shania terdiam sejenak. "Ky, kamu gak akan sendirian. Kamu kuat kok, kamu bisa lulus kuliah tanpa aku. Aku percaya padamu."

Hakya menggigit bibirnya, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang. "Tapi aku selalu butuh kamu, Shan. Setiap kali aku merasa takut atau ragu, kamu selalu ada buat aku. Kalau kamu pergi, aku nggak tahu harus bagaimana."

Shania menatap Hakya dengan hati yang berat. Ia tahu Hakya memiliki ketergantungan yang mendalam padanya. Tapi, di sisi lain, ia juga tahu bahwa ini adalah waktunya untuk mengejar impian dan tumbuh menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.

"Ky, aku selalu ada untukmu, tapi aku juga harus belajar untuk mandiri. Kita harus saling mendukung, bukan saling bergantung. Kalau kamu terus bergantung padaku, kamu nggak akan pernah tahu betapa hebatnya dirimu sendiri," kata Shania dengan lembut.

Hakya diam, matanya masih dipenuhi keraguan. Ia tahu kata-kata Shania benar, tetapi rasa takut dan cemasnya menghalangi pikiran rasionalnya. "Tapi, Shan... aku takut."

Shania menggenggam tangan Hakya, memberi sedikit kekuatan. "Aku tahu kamu takut, Ky. Tapi ingatlah, aku tidak akan pergi selamanya. Kita akan tetap saling mendukung, meskipun aku jauh. Kamu lebih kuat dari yang kamu kira."

Hari-hari berlalu, dan akhirnya Shania berangkat ke luar negeri. Meskipun Hakya merasa kehilangan, ia berusaha untuk mengikuti saran Shania dan mulai menghadapinya sendiri. Ia mulai belajar mengatasi rasa takutnya, mencari cara untuk menghadapi tantangan tanpa harus selalu mengandalkan Shania.

Beberapa bulan kemudian,Hakya menghubungi Shania melalui pesan suara.

"Halo Shan, aku baru aja lulus ujian terakhir. Rasanya... aku nggak percaya bisa melakukannya tanpa kamu di sini. Tapi aku tahu, ini semua karena aku mulai percaya pada diri sendiri. Terima kasih sudah memberi aku kekuatan, meskipun kamu jauh. Aku janji, aku akan terus berusaha.
Shania tersenyum mendengar pesan itu. Ia merasa bangga pada Hakya, sahabat yang selama ini ia sayangi, yang kini belajar untuk berdiri sendiri.Shania tahu, pertemanan mereka bukan tentang bergantung satu sama lain, tetapi tentang saling memberi kekuatan untuk tumbuh bersama.

Hakya tidak lagi merasa takut. Ia tahu, pertemanan sejati bukanlah tentang ketergantungan, tetapi tentang saling mendukung dan memberi ruang untuk 
berkembang.

Unsur Kebahasaan :
1.Dialog : Aku tahu kamu takut, Din. Tapi ingatlah, aku tidak akan pergi selamanya." Dialog ini juga menggambarkan kedalaman hubungan mereka. 
2.Konjungsi : "Tapi, di sisi lain, ia juga tahu bahwa ini adalah waktunya untuk mengejar impian."
3.Penggunaan Kalimat Imperatif : "Kita harus saling mendukung, bukan saling bergantung"

Komentar