BRAKKKK!!!!!
“Malu-maluin keluarga aja!”
“Mau jadi apa kamu? Masih SMP kelakuanmu seperti itu.”
“Mau jadi preman HAHH???”
“Ayah gak pernah ya nagajarin kamu seperti itu."
Kak Gala tertunduk dalam. Ia tidak menyangka ayah akan semarah ini kepadanya. Ia berpikir hal tersebut sudah biasa bagi anak remaja seusianya.
“Maaf ayah, Gala tidak sengaja, Gala cuman ikutin Natan aja yah, sumpah.”
***
Tahun itu tahun yang ditunggu para pemimpin. Mereka memasang wajah mereka dimana-mana. Memilih wajah yang jangan sampai pori-pori hidung terlihat. Menjanjikan apapun agar dirinya bisa berdiri di podium mewah. Menaburkan uang, sembako dimana-mana dan menjadi seorang dermawan secara tiba-tiba. Tetapi apalah daya ketika namanya terpilih? Keadaan berubah 180 derajat, mereka melupakan janji palsunya, seolah-olah amnesia terhadap rakyat dibawahnya dan hidup ongkang-ongkang kaki memakan uang rakyat. Ah lupakan disini aku tidak akan membahas mereka.
“Eh Gala, kamu tahu siapa orang di banner ini?” Natan mengawali pembicaraan ketika mereka di jalan pulang dari sekolah.
“Ya tahu lah, kan orang itu yang nanti mencalonkan diri sebagai Bupati kan?” Gala menjawab.
“Masa bodoh orang itu mau jadi apa, tetep saja toh nanti juga korupsi.” Kata Natan dengan nada sok tahu nya.
“Eh jangan bilang gitu nanti ada yang denger kau masuk penjara hahaha.” Gala melontarkan candaan.
“Apaan sih Gal ngaco banget gitu doang masuk penjara. Eh, tapi aku punya rencana sesuatu, sini.” Natan membisikkan Gala rencana yang ia maksud. Tetapi Gala ragu, takut kalau aksi mereka ada yang memergoki.
“Udah ayo nih ada pilox kamu satu, aku satu.” Natan maju ke arah banner sambil membawa pilox satunya.
“Gamau, nanti kalau ada yang melihat gimana. Ini juga udah sore nanti ibu nyariin aku.” Gala takut karena ia tak pernah nakal semasa hidupnya. Tetapi Natan dengan tidak sabar menggandeng tangan Gala dan menyuruhnya untuk menggambar sembarang gambar di wajah calon Bupati itu. Tapi, tak berselang lama.
“Hei, ngapain kalian coret-coret disini? Bukannya langsung pulang malah coret-coret disini.”
Dua polisi datang menyergap mereka. Mengintrogasi mereka. Hingga salah satu polisi menelpon ayah Gala dan Natan karena ternyata polisi tersebut teman dari ayah mereka.
***
BRAKKKK!!!!!
“Malu-maluin keluarga aja!”
“Mau jadi apa kamu? Masih SMP kelakuanmu seperti itu.”
“Mau jadi preman HAHH???”
“Ayah gak pernah ya nagajrin kamu seperti itu.”
Kak Gala tertunduk dalam. Ia tidak menyangka ayah akan semarah ini kepadanya. Ia berpikir hal tersebut sudah biasa bagi anak remaja seusianya.
“Maaf ayah, Gala tidak sengaja, Gala cuman ikutin Natan aja yah, sumpah.”
“Ada apa sih yah kok marah-marahin Gala, dia baru pulang sekolah loh.” Ibu keluar dari kamar setelah terdengar teriakan ayah juga menyusul aku yang ketakutan melihat ayah memarahi kakak.
“Apanya yang pulang sekolah. Dia sama Natan coret-coret banner pemilu dijalan sana. Sampai-sampai kepergok polisi, beruntung anak ini masih bisa dibawah pulang.” Kata ayah dengan emosi.
“Iya sudah Yah, namanya juga anak remaja.” Ibu coba membela Kak Gala. Kak Gala yang dibela hanya menunduk, tidak berani melihat apalagi melawan Ayah ketika marah. Beruntung ia masih dibela Ibu.
“Iya Ayah, Ayah nda boleh malah-malah nanti cepat tua. Kakak itu cuman belmain Yah, kan kakak masih anak-anak.” Kataku yang masih TK dengan omongan yang masih cadel.
“Iya putri Caca yang cantik, siap.” Ayah mendekatiku dan menggendongku, seolah-olah melupakan masalah yang barusan terjadi. Aku memang anak kesayangan ayah, karena sudah sejak lama ayah menginginkan anak perempuan.
***
Makan malam selalu terasa sempurna. Dengan keberadanku yang selalu cerewet, Kak Gala yang suka menjahiliku, Ayah yang selalu bercerita kesehariannya, ditambah masakan Ibu yang selalu lezat. Harmonisnya keluargaku menjadikanku tak kekurangan kasih sayang sedikitpun.
“Gala, kamu kan sudah kelas IX SMP, kamu pasti sudah tahu mana yang baik dan benar. Sudah waktunya kamu hidup mandiri. Keputusan ayah dan ibu sudah bulat bahwa SMA kamu di pesantren Al-Hidayatul Qur’an.” Ayah mengawali pembicaraan ditengah makan malam.
“Maksudnya, Gala masuk pesantren gitu Yah?” Kak Gala terkejut dengan apa yang ayah bilang barusan. Nasi didepannya sudah tidak terasa nikmat lagi.
“Iya Nak, karena pengasuhnya adalah Bupati yang kamu coret-coret bannernya tadi siang. Kebetulan beliau Kyai yang bagus, jadi yasudah sekalian saja kamu masuk pesantren disana.” Ibu menambahi pernyataan Ayah.
“T-tapi Yah, Bu, Gala kan…” Kak Gala mencoba menolak, karena sebetulnya ia ingin sekolah di SMA Negeri bukan pesantren seperti yang ayah inginkan.
“Ibu, pesantlen itu apa.” Ditengah pembicaraan aku bertanya dengan mulut yang masih penuh makanan. Karena aku tidak pernah mendengar kata pesantren dari mulut siapapun.
“Pesantren itu tempat untuk mencari ilmu. Sama saja seperti kamu sekolah, bedanya disana tidak boleh pulang, kecuali liburan.” Ibu menjelaskan dengan bahasa yang mudah agar aku dapat memahami.
“Loh, belalti Caca nda bisa lihat Kak Gala?” Aku cemberut. Aku berpikir bahwa aku tidak akan bertemu Kak Gala lagi.
“Sudah Gala, kamu sebaiknya menurut saja. Ayah sama Ibu tahu apa yang terbaik buat kamu. Lagian nanti kalau Ayah sudah tidak ada, siapa yang nanti akan mendo’akan untuk Ayah kalau bukan kamu dan Caca nanti.. Untung-untung ini sebagai permintaan maafmu kepada beliau.” Ayah mencoba menjelaskan maksud dari keputusannya dan membujuk Kak Gala agar mau di pesantrenkan.
Kak Gala hanya mengangguk mengiyakan Ayah. Meskipun terpaksa, ia tidak dapat menolak perintah Ayah, apapun itu. Ia hanya bisa meyakinkan dirinya bahwa mungkin ini jalan terbaik untuknya.
***
Hari-hari berlalu begitu cepat. Tak terasa Kak Gala sudah lulus dari SMPnya. Dan hari ini sekaligus hari terberat bagi Kak Gala karena Ia harus meninggalkan rumah dan berangkat menuju penjara suci. Hari itu, aku sedih sekali. Aku tidak berhenti menangis dari pagi. Aku tahu dan mulai paham definisi pesantren itu apa dan aku tidak mau Kak Gala pergi dari rumah. Kalau Kak Gala pergi, yang menemaniku siapa?
Tepat siang hari, Kakak berpamitan kepadaku dan juga Ibu, karena Kakak hanya berangkat dengan Ayah. Meskipun berat aku harus kuat, karena kata ibu “Ini semua demi masa depan Kakak nak.”
“Ayah jangan bawa Kakak, Kakak gabole pelgi Kakak halus sama Caca telus.” Aku meraung menangis tidak mau ditinggal. Meskipun kami selalu bersama, tetapi tak pernah sekalipun kami bertengkar. Jadi tidak ada istilah Tom & Jerry bagi kami.
“Caca Kakak mau pergi sekolah, sudah jangan menangis nanti kita jenguk Kakak di pesantrennya ya.” Ibu menenangkanku yang tak mau ditinggal Kak Gala.
“Bu, Gala berangkat, doain Gala disana Bu, Assalamualaikum.” Kak Gala pamit dengan Ibu.
“Waalaikumsalam, Do’a Ibu tidak akan pernah terputus untukmu Nak.” Ucap Ibu sambil menahan air mata yang hendak jatuh melepas kepergian anak sulungnya.
***
Dua bulan tanpa adanya Kakak membuatku terbiasa. Meskipun terkadang Aku merasa rindu, tapi Aku selalu mendo’akan Kakak disana. Karena kata Ibu “Caca, kalau kangen Kakak kita baca Al-Fatihah yaa.” Begitulah katanya kira-kira. Selepas sholat aku tidak pernah lupa bacakan do’a untuk Kak Gala.
Sampai pada hari ini akhirnya Aku bisa bertemu Kak Gala lagi. “Yeayyyy Caca mau ketemu kakak.” Kataku dengan riang.
“Sudah Caca ayo bantu Ibu bawa barang buat Kakak. Bawa ke depan ya, sudah ditunggu Ayah.” Perintah Ibu kepadaku yang dari tadi asyik berdandan di depan kaca. Karena Aku harus tampil cantik. Siapa tahu teman Kak Gala ada yang naksir hihihi.
“Siap bos!” Jawabku dengan semangat.
***
Setelah satu jam perjalanan dengan motor, kami tiba di pesantren Kak Gala. Ibu pun mencari Kak Gala di kamarnya, sedangkan Ayah dan Aku menunggu di ruang jenguk.
“KAKAKKKKK!!! Caca kangen banget sama Kakak. Kakak disini baik-baik saja kan?” Aku yang sudah tidak sabar langsung menyambar memeluk Kak Gala.
“Alhamdulillah Kakak baik-baik saja disini.” Kak Gala pun membalas pelukanku.
Setelah berbasa basi kami pun makan bersama, melanjutkan kebiasaan kami di rumah. Kak Gala pun menceritakan banyak hal tentang pesantren barunya. Aku pun tak mau kalah, Aku juga menceritakan semua yang ada di sekolahku. Hari itu berjalan sangat menyenangkan. Hingga waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore yang berarti kami harus segera pulang karena waktu penjengukan sudah habis. Ibu dan aku berpamitan pada Kak Gala untuk pulang. Tetapi entah mengapa Ayah berpamitan dan memeluk Kak Gala sangat lama.
“Gala, gantikan Ayah ya?” Ayah mengucapkan kalimat tersebut saaat memeluk Kak Gala.
“Iya Ayah.” Kak Gala pun bingung apa maksud ucapan dari Ayah. Tapi ia tak ambil pusing, ia berpikir mungkin ia kelak harus jadi seorang pemimpin yang bijaksana seperti Ayah.
Kami pun pulang dan meninggalkan Kak Gala di pesantren lagi.
***
Di sepeda motor membuatku sangat mengantuk apalagi angin sore itu membuatku ingin tidur seketika. Tetapi entah mengapan truk di depan tidak kondusif seperti biasanya. Dia oleng kesana kemari hingga membuat Ayah sedikit emosi karena tak berhasil mendahuluinya. Hingga saat Ayah mencoba mendahului….
BRAKKKKK!!!!!!!
“ALLAHU AKBAR.”
Aku tidak tahu apa yang Aku rasakan saat itu. Yang Aku dengar hanya teriakan Ayah. Pandanganku buram. Aku melihat sekeliling orang di jalan raya yang tak memedulikanku tergeletak di trotoar. Aku mencari Ibu dan Ayah tapi mereka tidak ada di sebelahku. Hingga banyak warga datang menghampiriku.
“Om tante tolongin Ayah sama Ibu Caca.” Kataku dengan wajah penuh darah. Aku sangat khawatir dengan keadaan Ayah dan Ibu. Tapi Ibu yang berada di jalan lain berusaha menghampirinya.
“Nak Ayah sudah tidak ada.” Dengan kaki pincang dan patah tulang ditangannya Ibu berusaha mengahmpiriku dan memberitahuku kabar tersebut. Aku tidak tahu apa yang Ibu pikirkan saat itu, ditengah kondisi yang seperti itu ia menghampiriku dan tidak peduli seperti apa kondisinya saat itu.
“AYAHHHHH!!!” Aku berteriak. Tenggorokanku tercekat dan aku pun kehilangan kesadaran.
***
Aku masih TK, berusia empat tahun. Aku belum paham apa itu kehilangan. Apa itu kematian. Semenjak Ibu berkata seperti itu, aku seolah paham Ayah tidak ada lagi di dunia ini. Dan Aku tidak memiliki Ayah lagi.
Aku mulai membuka mata perlahan. Aku sangat asing dengan tempat ini. Aku mulai sadar bahwa Aku ada di rumah sakit. Aku melihat Ibu tergeletak dengan tangan penuh darah berada di sampingku. Sedangkan Aku melihat Ayah akan dibawa ke kamar mayat.
“Ayahku jangan dibawa kemana-mana. Aku mau Ayah ada di sebelahku.” Pintahku pada suster yang akan membawa Ayahnya. Karena aku tahu hari itu hari terakhir Ayah berada di seblahhku.
***
JBRAK!!!!!
JBRAKKKK!!!!!
“INI SEMUA SALAHKU! COBA AYAH, IBU, CACA GAK KESINI PASTI INI SEMUA TIDAK AKAN TERJADI. INI SALAHKU. GARA-GARA AKU CACA KEHILANGAN AYAH.”
***
Aku sekarang bisa merasakan apa yang Kak Gala rasakan. Iya benar, sekarang Aku juga pesantren seperti Kak Gala. Kak Gala sudah lulus tujuh tahun lalu. Ia sekarang sudah bekerja bahkan sudah menikah. Sekarang Aku berada di rumah menikmati liburan panjangku. Tapi lama-lama Aku merasa bosan diam saja di rumah. Aku pun berkeliling rumah, lalu menemukan lemari ibu yang lama. Saat aku buka, di bagian bawah sendiri banyak sekali buku-buku Kak Gala waktu SMA. Aku tertarik dengan buku bersampul abu-abu. Aku berpikir mungkin ini diary. Dan benar saja ternyata Kak Gala juga suka menulis diary hihihi. Setelah aku baca-baca tulisan Kak Gala Aku menemukan surat yang sudah lusuh dan ada bercak-bercak air mata yang isinya,
Ditengah pemotong sawah bersebelahan dengan saluran irigasi yang lumayan membuatku semakin penasaran dengan apa yang ingin aku lakukan lagi. Apakah aku kepikiran lagi, atau seperti angin yang terlampau amat dari kata sepoi-sepoi. Angin yang lumayan gedebah laksana ombak, karena tiupannya sedang menggerakkan berjuta-juta daun padi.
Yah, tadi pagi sebelum sholat Jumat aku dijenguk orang tua. Tapi ada yang membuatku kecewa, bukan karena uang yang kurang, makanan yang nggak enak, ataupun lamanya menunggu 15 hari di rumah roseo suci. Tapi hal yang membuatku kecewa adalah tanpa kehadiran adikku tersayang “Caca” namanya. Dia amat tidak mau menjengukku. Itu kareena trauma yang besar. Yah bagaimana tidak trauma, pada tanggal 4 Oktober 2013 dia bersama ayah dan menjengukku. Tapi naas pada saat pulangnya terjadi kecelakaan di Bakalan, Purwosari. Dia terkena retak di hidungnya, memar matanya, dan gegar otak ringan. Yang membuatku gak punya hati pada saat dia di RS Saiful Anwar di ruang vakum/ICU, melihat keluar ke pintu dengan mata yang memar dan ungu. Entah karena terkena benturan atau apa. Menatap dengan melihat kakaknya seorang, yaitu aku. Aku berkata “Maaf ya dek gara-gara kakak kamu nggak bisa lagi dapat kasih sayang dari ayah.” Yang bikin aku merasa bersalah aku sadar bahwa keberadaan adikku lebih berarti daripada kehidupannku sekarang. Adikku adalah segalanya. “Maafkan kakak ya, sering bikin Caca nangis. Kakak janji, akan bahagiakan Caca terus. Kak Gala akan gantikan ayah Ca….”
***
Sebelas tahun lalu adalah hal yang paling menyakitkan untukku. Meski sudah lama, tapi rasa sakit ini tak pernah hilang. Kehilangan ayah bukan hal yang mudah bagiku, apalagi aku yang masih berumur empat tahun kala itu. Kejadian tersebut meninggalkan trauma bagiku yang masih melekat hingga sekarang, yaitu trauma ditinggalkan seseorang. Tapi aku belajar tidak pernah menyalahkan takdir Tuhan sekeras apapun itu. Aku tahu Tuhan tidak akan menguji seseorang, kecuali orang tersebut orang terpilih.
Tidak dapat dipungkiri memang dewasa tanpa ayah itu berat, aku mengakuinya. Melihat anak-anak lain yang masih bisa bersama ayahnya cukup membuatku iri. Aku hanya ingin ayah mengucapkan ulang tahunku yang ke-17 kali ini, walaupun aku tahu itu adalah permintaan konyol. Tapi sekali lagi, aku mengikhlaskan semuanya.
UNSUR INTRINSIK
1.Tema: Kekeluargaan
2.Tokoh: Ayah, Ibu, Kak Gala, Caca, dan Natan
3.Penokohan: Ayah- tegas, disiplin.
Ibu- sabar,ikhlas.
Kak Gala-penurut,relaberkorban, tidak egois
Caca- sabar, ikhlas menerima cobaan, cerewet.
4.Alur: Mundur
5.Sudut pandang: Orang pertama serba tahu
6.Latar: - dijalan pulang dari sekolah
-pukul tiga sore di pesantren
-di RS Saiful Anwar
7. Amanat: Ikhlas dalam menrima cobaan, karena Tuhan tidak akan memberikan cobaan melainkan kepada orang-orang pilihan. Sayangi orang tua kalian yang masih ada, bila esok mereka telah tiada kalian akan mengetahui betapa sulitnya hidup tanpa orang tua.
UNSUR EKSTRINSIK
1.Bahasa: bahasa Indonesia.
2.Nilai-nilai: nilai agama-Karena kata Ibu “Caca, kalau kangen Kakak kita baca Al-Fatihah yaa.
Nilai moral:“Bu, Gala berangkat, doain Gala disana Bu, Assalamualaikum.” Kak Gala pamit dengan Ibu. “Waalaikumsala, Do’a Ibu tidak akan pernah terputus untukmu Nak.” Ucap Ibu sambil menahan air mata yang hendak jatuh melepas kepergian anak sulungnya.
KEBAHASAAN CERPEN
1.Menggunakan keterangan waktu:Setelah berbasa basi kami pun makan bersama, melanjutkan kebiasaan kami di rumah.
2.Menggunakan verba aksi:Aku meraung menangis tidak mau ditinggal. Ayah mendekatiku dan menggendongku, seolah-olah melupakan masalah yang barusan terjadi.
3.Menggunakan dialog: “KAKAKKKKK!!! Caca kangen banget sama Kakak. Kakak disini baik-baik saja kan?” Aku yang sudah tidak sabar langsung menyambar memeluk Kak Gala. “Gala, gantikan Ayah ya?” Ayah mengucapkan kalimat tersebut saaat memeluk Kak Gala.
Komentar
Posting Komentar