Mentari senja menyapa wajah Tiara Lintang suroyya yang masih sibuk membolak-balik lembaran kertas berisi puisi. Haflah Akhirussanah Pesantren Miftahul Huda tinggal menghitung jam. Detak jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya. Bukan hanya karena ia akan tampil membacakan puisi karyanya sendiri, tapi juga karena ia ditunjuk menjadi MC di acara puncak, Wisuda Yamb'ua. Yamb'ua, program unggulan pesantren yang mencetak para penghafal Al-Qur'an, menjadi sorotan utama acara tahunan ini.
Tiara, gadis pendiam yang lebih suka bersembunyi di balik buku daripada bermandikan sorot lampu panggung, merasa terpilih secara tiba-tiba. Ning midha, sosok yang dikenal tegas dan bijaksana, memanggilnya kemarin sore. "Tiara, kamu akan menjadi MC Wisuda Yambua dan membacakan puisi. Saya percaya padamu," kata Ning midha, tanpa banyak basa-basi.
Perut Tiara terasa mual. Ia bukan tipe orang yang suka menjadi pusat perhatian. Bayangan akan kegagalan dan cemoohan teman-temannya memenuhi pikirannya. Ia bukan orator ulung, bahkan membacakan puisi di depan kelas saja membuatnya gugup setengah mati. Menjadi MC di acara sebesar ini? Rasanya mustahil.
Sepanjang malam, Tiara tak bisa tidur. Ia membayangkan dirinya gagap di atas panggung, lupa teks, bahkan mungkin menangis tersedu-sedu saat membacakan puisi. Ia membayangkan para penghafal Al-Qur'an yang diwisuda menatapnya dengan tatapan kecewa. Ia membayangkan cibiran teman-temannya, bisikan-bisikan yang menyakitkan.
Pagi harinya, ia mencoba berlatih. Ia membaca teks MC berulang kali, namun kata-kata itu terasa asing dan sulit diucapkan. Suaranya serak dan gemetar. Ia berlatih di depan cermin, namun hanya melihat wajah pucat dan mata yang berkaca-kaca. Puisi karyanya, yang bertemakan pengabdian dan harapan, juga terasa berat untuk dibawakan.
Shofil, sahabat karibnya, datang menghampirinya. "Tenang, tir. Kamu pasti bisa. Suaramu bagus kok, dan puisimu sangat menyentuh. Aku akan membantumu," kata Salma, memberikan semangat. Salma, yang memang pandai berbicara dan berjiwa pemimpin, membantu Tiara berlatih. Ia melatih Tiara untuk mengatur intonasi suara, mengatur tempo bicara, dan bahkan melatih mimik wajahnya. Salma juga membantunya memilah kata-kata puisi agar lebih mudah diresapi.
Saat acara dimulai, jantung Tiara berdebat kencang. Namun, dukungan Shofil dan keyakinan bahwa ia harus memberikan yang terbaik membuatnya sedikit tenang. Ia menghirup napas dalam-dalam, dan memulai sambutannya sebagai MC. Awalnya masih sedikit gemetar, namun perlahan suaranya semakin mantap. Ia membawakan acara dengan lancar, bahkan sesekali menyelipkan sedikit humor yang membuat hadirin tersenyum. Saat membacakan puisi, suaranya bergetar, namun getaran itu bukan karena gugup, melainkan karena ia merasakan setiap kata yang ia ucapkan. Acara selesai dengan sukses. Tiara merasa lega, bangga, dan sedikit tak percaya diri. Ia berhasil. Ia, Tiara Lintang Suroyya, berhasil melewati tantangan terbesarnya. Ini adalah awal dari sebuah petualangan baru, sebuah petualangan yang telah mengubahnya.
Komentar
Posting Komentar