"Mas... Tolong bawakan ember air itu.” Suruh seorang wanita berkepala empat. “Nggih1... Buk.” Jawab seorang remaja yang disuruh. Ia pun mengambil seember air yang berada dibawah kran untuk dibawa kehadapan ibunya. “Ini buk...” Kata remaja tersebut dengan takdzim. “Terimakasih ya mas.” Kata ibunya dengan senyum yang sangat tulus kepada anak sulungnya tersebut. Ibu yang penuh kasih sayang itu hendak memasak. Beliau berjongkok di depan tungku, kemudian memasukkan beberapa kayu bakar yang tergeletak di sampingnya. “Mas... Nyalakan apinya ya, ibuk mau ambil singkong dibelakang.” Kata ibu tersebut. “Nggih buk.” Remaja tersebut kemudian menyalakan api untuk membantu ibunya memasak.
Namaku Husein, Husein Muhammad Al-Mubarok. Tetapi, entah mengapa teman-teman ku lebih suka memanggilku Barok. Mungkin karena mereka nyaman? Atau apalah aku pun tak tahu. Aku merupakan anak sulung dari keluarga yang sederhana. Keluarga yang tinggal di dalam sebuah istana kecil berbahan kayu (bukan kayu yang tebal dan yang kalian pikirkan) beratap daun (entah daun apa yang digunakan bapakku itu sehingga bisa menaungi kami, meskipun ada yang bocor). Istana yang ku maksud bukanlah istana yang megah dan mewah yang biasanya ditinggali para bangsawan, maupun raja dan ratu yang tak pernah terkena badai maupun banjir. Istanaku adalah sebuah tempat tinggal (yang biasa kalian sebut rumah) yang didalamnya terpancar sebuah kesederhanaan dari sebuah keluarga.
“Buk... Mana bapak?!!” Atmosfer yang ada didalam ruangan itu seketika berubah. Itu adalah suara adikku, dengan segala emosinya. Aku tidak suka keras kepalanya, manjanya dan apapun itu yang menyusahkan keluarga. Bagaimana aku bisa suka sifatnya, jika dia suka membentak-bentak orang tua. Meskipun dia berparas cantik bak putri bangsawan. Parasnya yang menawan itu diturunkan dari ibuku, tetapi entah dari mana ia turunkan sifat seperti itu.
“Bapak lagi kerja nduk2, buat bayar sekolahmu sama masmu.” Kata ibu lemah lembut. “Iya tau buk... Tapi aku mau minta uang buat main. Dikit aja deh. Masa gak mau ngasih gak mau ngasih ke anak sendiri?!!” Katanya tak sopan. “Ndak gitu nduk... Yaudah ini wis, tak kasih segini tapi dihemat yoo3...” Kata beliau sambil menyodorkan selembar uang berwarna ungu. “Yaudah deh. Salim dulu buk, Assalamualaikum.” Tukasnya tak sabaran sambil mengambil selembar uang tersebut kemudian menggamit tangan ibu yang kemudian ia tempelkan ke pipi. Dia pun berlalu pergi sambil mengucap salam (yang tak sopan untuk masuk ke telinga).
Hari ini adalah hari minggu. Setelah sholat subuh di masjid dekat rumah tadi, ibuku sudah bersiap untuk memasak sarapan kami. Bapak juga langsung berangkat bekerja untuk menghidupi keluarga. Sarapan kami kali ini hanya beberapa singkong yang direbus diatas tungku sederhana. Berbeda dengan kebanyakan anak di kampung sebelah yang sisa makanannya bisa Kita dapatkan setelah bapak bekerja siang malam, memeras keringat. Memeang, kampungku warganya cukup sederhana, sesederhana papan, sandang, dan pangan mereka. Tak terkecuali keluargaku, tapi tidak untuk adikku dan gengnya (istilah teman zaman sekarang).
Nama adikku adalah Aisyah, Aisyah Maharani. Entah mengapa ia tak suka dipanggil Aisyah. “Kurang mbois4” Katanya suatu kala. Ia lebih menyukai nama belakangnnya, Rani. Adikku itu sudah pergi meninggalkanku berdua dengan ibu. Entah kemana dia bermain bersama gengnya. Aku lebih memilih membantu ibuku memasak, kemudian kita makan berdua tanpa bapak dan Rani. Bapak biasanya mendapat jatah makan saat bekerja. Dan Rani, entah ia mau sarapan apa. Selesai makan, aku lebih memilih untuk membantu ibuku membersihkan rumah -yang tak berlantai itu, dan juga memperbaiki sesuatu yang rusak di rumah, seperti atap yang akhir-akhir ini sering bocor- dari pada nimbrung ke lapangan untuk bermain sepak bola.
꧁✧✦❉❀❉✦✧꧂
“Buk, bapak mau bicara dua mata.” Tutur bapak dengan raut wajah sedih. Bapak pulang ketika hari menjelang petang, dengan menopang tubuh yang sudah lelah. “Iya pak, mau bicara apa toh?” Heran ibu. “kita duduk dulu yuk pak, ibuk tak ambil air dulu buat bapak.” Lanjut ibu dengan perhatian. Bapak pun duduk dikursi kayu peninggalan mbahkung5. Ibu pun menuju dapur untuk mengambilkan bapak segelas air putih. “Ayo pak diminum dulu airnya. Capek kan pasti?
“Buk, bapak mau bicara dua mata.” Tutur bapak dengan raut wajah sedih. Bapak pulang ketika hari menjelang petang, dengan menopang tubuh yang sudah lelah. “Iya pak, mau bicara apa toh?” Heran ibu. “kita duduk dulu yuk pak, ibuk tak ambil air dulu buat bapak.” Lanjut ibu dengan perhatian. Bapak pun duduk dikursi kayu peninggalan mbahkung5. Ibu pun menuju dapur untuk mengambilkan bapak segelas air putih. “Ayo pak diminum dulu airnya. Capek kan pasti?” Tutur ibu lemah lembut, sambil menyodorkan gelas berisi air putih. Glekk,glekk,glekk. “haahh... Iya buk capek bapak. Bukk... Bapak mulai bicara yaa...” Kata bapak sambil menatap ibu dalam. Ibu mengangguk sambil menatap balik kedua bola mata bapak dengan tulus. “Buk, bapak kena tipu orang. Bapak kan waktu itu sudah bilang kalau mau jual sawah peninggalan mbahkung, buat bayar sekolahnya Husein sama Aisyah. Tapi, orang yang beli sawah itu bayar setengah dari harga aslinya. Katang orang itu, uang yang dikasih itu sebagai DP6. Orangnya minta surat tanahnya. Terus dibawa kabur buk... Nah tadi ada orang asing, maksudnya orang rantau yang datang ke sawah bapak. Terus bapak tanyakan orang itu, “Ngapain disini pak?” Terus kata orang rantau itu “Lho pak kan ini tanah baru saya beli” Bapak cari tau orang yang membeli tanah bapak setengah harga itu. Tapi orang rantau yang mengaku sudah membeli tanah bapak itu sudah tidak tau keberadaannya buk.” Cerita bapak panjang lebar. “ya Allah pak... Kok bisa yoo?? Wes7 gak papa pak. Nanti kita cari bareng-bareng orang yang curang itu pak. Kita minta bantuan orang-orang sekitar. Yang penting kita pasrah dibarengi usaha. Kita serahkan semua hasilnya sama Allah.” Tutur ibu. “Maaf nggih bu... Belum bisa ngebahagiain sampeyan8 sama anak-anak.” Balas bapak. “Wes pak, mboten nopo9. Kita masih bisa bareng-bareng aja ibuk sudah bahagia.” Lanjut ibu.
꧁✧✦❉❀❉✦✧꧂
Bapakku adalah seorang yang hebat. Seorang yang selalu ku jadikan panutan. Bapak mengenalkanku lebih dalam tentang agama, yang dimana di sekolah kami -notabene nya sekolah negeri- kurang mendalami ilmu agama pada masa itu. Bapakku adalah seorang kuli bangunan yang disegani oleh juragannya, karena ketulusan dan kebaikan hatinya. Meskipun badan beliau agak kurus, tapi beliau tetap kuat menjalani pekerjaan itu. Demi kami sekeluarga, beliau rela mengorbankan jiwa dan raganya.
Pernah suatu saat, ketika bapak bekerja. Beliau tiba-tiba merasakan sakit dikepala. Sampai-sampai beliau hendak pingsan. Untung saja juragan bapakku itu sigap menolong. Kemudian, dibawalah bapakku ke pos para kuli yang bekerja. Bapakku dibaringkan diatas tikar sederhana yang sudah digelar oleh teman-teman kulinya. Bapak ditunggui oleh juragan yang baik hati itu. Sampai ketika beliau bangun dan terduduk, bapak terbatuk-batuk keras sekali, lama sekali, juga disusul darah yang keluar. Entah dari mana darah itu keluar.
Saat itu aku hanya remaja tanggung kelas 2 SMA yang tak tahu menahu soal penyakit. Kukira bapak hanya mimisan (darah yang keluar dari hidung). Dan adikku lebih tidak peduli lagi soal bapak.
Bapak pulang dengan diantar juragannya menggunakan pick up yang sudah kuno. Ibu yang menyambut mereka saat datang. Ibu tergesa-gesa menghambur mengambil alih untuk menopang bapak. Aku pun bergegas membantu ibuku yang susah payah menopang bapak, karena perbedaan berat tubuh mereka. Setelah membaringkan bapak diatas tikar sederhana yang kami punya, ibu berlalu ke depan lagi untuk menemui si juragan baik hati itu. Entah mereka membicarakan apa disana. Aku hanya menunggu disamping bapak. Kutengok bapak dengan hati mengiba. Tiba-tiba hatiku tergerak untuk menyentuh dahi bapak, mengecek suhu tubuhnya. Aku gemetaran, ketika mengetahui suhu tubuh bapak sangat tinggi. Aku pun bergegas menuju dapur, menyalakan tungku api, mengambil air dan memasaknya. Aku berniat mengompres bapak.
꧁✧✦❉❀❉✦✧꧂
Adikku pulang tak lama setelah bapak pulang. Tanpa mengucap salam, dia menghambur menuju bapak yang sedang makan ditemani ibu dan aku. Bapak baru memakan tiga suap nasi (hadiah dari juragan baik hati itu), adikku tiba-tiba nyelodor9, berkata “Pak... Aku bosan tinggal disini, kata bapak kita bakal pindah rumah. Kita pindah ya pakk?? Aku diejek sama temen-temenku gara-gara rumahku jelek kayak gini. Ayo dong pak beli rumah baru. Masa seorang bapak GK bisa sih ngebahagiain anaknya? Bapak pengen aku sengsara? Aku juga gak mau terus-terusan makan singkong. Masa tiap hari makan singkong rebus terus? Gak bosen apa? Aku juga pengen kayak temen-temen aku yang makannya selalu enak. Kapan sih pak, kita bisa kayak gitu?” Panjang lebar cerocosannya. Aku menuliskan pendengaranku akan protesannya. Entah dengan ibu dan bapak. “Aisyah, omonganmu itu loh dijaga!! Sama bapak kok ngomongnya kasar bagitu.” Tutur ibu dengan tegas, meskipun ibu biasanya lemah lembut. Bapak menggenggam lembut tangan ibu, merendam emosinya. “Iya nduk, lagi bapak usahakan, kamu berdo’a saja ke sang maha pencipta. Semoga do’a-do’a kita cepat dikabulkan oleh-Nya.” Dengan kelembutan nadanya bapak berkata. Adikku itu hanya merengut mendengar itu. “Wis, ayo makan dulu nduk.” Lanjut bapak mencairkan suasana. “Moh10 wis aku tak bubuk11.” Tukasnya, sambil berlalu meninggalkan kami. Dia pun pergi ke kamar yang hanya dibatasi sekat selambu Kumal dan lusuh. Ibu dan bapakku hanya mengelus dada melihat tingkah laku adikku itu. Aku pun tak habis pikir dengannya. Setelah itu kita melanjutkan makan yang terjeda.
꧁✧✦❉❀❉✦✧꧂
Sang Surya sudah lama mengurung dirinya. Digantikan dengan sang rembulan yang memancarkan cahaya sendunya. Gelap gulitanya malam tak menghentikan segala yang bernyawa tuk beraktivitas. Rimbun pepohonan yang menari-nari terkena siulan alam, berdzikir menyebut asma sang pencipta. Tak terkecuali bapakku. Ia menggelar sajadahnya diatas tikar bekas tidurnya. Mengambil air wudhu. Dan, mengadu kepada tuhan Yang Maha Esa. Didalam sujud panjangnya. Ia menangis mendamba pertolongan Tuhannya, dan berdo’a “Ya Allah... Engkau adalah tempat bergantung kami, tak ada tempat lain melainkan kepadamu. Tunjukkanlah kebesaranmu pada kami, agar kami tak lalai dalam bersyukur kepadamu. Ya Allah... Perbaikilah sifat anak-anakku, termasuk Aisyah. Jadikanlah ia semulia Sayyidah Aisyah. Tunjukkan kepadanya jalan yang engkau ridhoi, juga kami ridhoi. Bukalah mata hatinya untuk selalu berbuat baik, dan bersikap lemah lembut. Hanya kepadamu aku berharap. Allahumma amiinn...”
Ibu melihat itu semua sambil menahan tangis yang tak lama lagi akan tumpah ruah. Bapak kemudian bangkit, membereskan sajadahnya. Bapak menemukan ibu yang sudah menangis tersedu-sedu karena mendengar do’a bapak. “Semoga ya pak... Amiinn...” Ucap ibu disela-sela tangisnya. Bapak pun menghapus air mata ibu yang tak terbendung itu dengan lemah lembut. Tiba-tiba... Uhukk...Uhukk... Bapak terbatuk, mengeluarkan darah. Ibu yang menyaksikan itu segera mengambil kain lap dan segelas air untuk bapak. “Diminum dulu pak...” Kata ibu sambil menyodorkan gelas tersebut, dan mengelap darah yang keluar dari mulut bapak. “pak, berobat ya...” Tutur ibu. “Ndak usah bukk.. nanti juga sembuh sendiri.” Ujar bapak menenangkan.
꧁✧✦❉❀❉✦✧꧂
2 Bulan Kemudian.
“pak Karsono... Itu dipanggil pak bos.” Kata seorang teman kerja bapak. “Oh iya-iya... Ada apa ya?” Tanya bapak heran. “Kurang tau ya pak.” Lanjutnya. “terimakasih ya dang...” Ungkap bapak, kemudian pamit undur diri untuk menemui juragannya itu.
Ya... Nama bapakku adalah Karsono. Putra dari seorang petani. Bapakku hanya dua bersaudara. Saudaranya itu juga tinggal di kampungku, tetapi nasib mereka tidaklah jauh berbeda. Hanya saja saudara bapakku itu mempunyai papan (tempat tinggal) yang masih layak dihuni.
Bapak sudah berdiri diruangan juragannya itu. Tok,tok,tok... Ketukan pintu terdengar dari luar ruangan. “Pak Karsono ta? Masuk pak!!” sahut si pemilik ruangan. Kemudian bapak membuka pintu ruangan, yang seketika aroma kopi menguar menuju indra penciuman bapak. Bapak dipersilahkan duduk berhadap-hadapan dengan juragannya. Disitu tak hanya ada bapak dan si juragan, tetapi juga ada seorang lelaki kira-kira berkepala tiga -yang lebih muda dari mereka berdua-. Si juragan tersebut menjelaskan maksud dari memanggil bapak kedalam ruangannya. “Ini namanya pak Yusuf, pak karso. Maksud dari kedatangan beliau adalah ingin sedikit berbagi harata titipan Allah kepada bapak. Beliau ingin memberikan sesuatu kepada bapak.” Jelas si juragan panjang lebar. “Ngapunten nggih, nopo niku11?” Tanya bapak. “Bapak Karso, ini kunci rumah bapak sekarang. Saya alihkan kepada bapak yaa. Semuanya ikhlas dari diri saya sendiri pak. Tanpa ada biaya sepeserpun yang harus bapak bayar. Karena ini semua merupakan titipan Allah. Bapak selama ini sudah berusaha sekuat tenaga dan mungkin ini adalah rencana yang sudah Allah takdirkan.” Jelas pak Yusuf dengan menyerahkan sebuah kunci kepada bapak. Bapak langsung sujud syukur saat itu juga. Memikirkan betapa tak terduganya takdir Allah. Mengagungkan asma-Nya diruangan itu sambil tersedu-sedu.
꧁✧✦❉❀❉✦✧꧂
1 Bulan Kemudian
Bapak terbaring lemah diatas tikar sederhana di dalam kamar. Disebabkan sakitnya yang bertambah parah. “bukk... Bapak ma...mau bicara sebentar. Uhuukk,uhuukk.” Ungkap bapak sambil menggamit tangan ibu. Ibu hanya mengangguk mendengarkan. “Bukk... Kalau bapak sudah tidak kuat lagi menjalani hidup, bapak minta tolong ya bukk.. uhuukk,uhuukk... Tolong sekali, bawa anak-anak ke rumah yang diberikan pak Yusuf kepada kita. Gunakan uang yang bapak simpan ditumpukan baju sebagai modal usaha ibuk. Itu adalah uang pemberian pak Yusuf juga. Ibuk cobalah berjualan untuk biaya sekolah anak-anak dan buat penunjang hidup kalian. Bapak rasa, bapak sudah tidak kuat lagi buk. Entah kapan Allah akan mengambil bapak. Ini adalah wasiat bapak. Tolong ya bukk... Tunaikan wasiat ini. Jaga Husein. Bimbing dia menjadi pria yang kuat dan tangguh. Bimbing Aisyah. Agar kelak ia menjadi wanita sholihah yang berparas elok wajah dan hatinya.” Tutur bapak. Ibu menangis sejadi-jadinya mendengar penuturan bapak. “InsyaAllah pak, insyaAllah.” Balas ibu dengan gemetar.
꧁✧✦❉❀❉✦✧꧂
1 Minggu Kemudian
Banyak orang disini. Tetapi tak ada satu pun wajah yang sumringah. Semua menunduk. Tersedu-sedu. Sesekali memelukku, juga adikku sambil membisikkan kata-kata ‘Yang kuat ya nak...’ . Aku berusaha mencerna kata-kata itu. Aku benar-benar tak paham. Apakah ini kenyataan?. Aku berusaha menguatkan diriku. Ingin rasanya ku menangis dan berteriak sejadi-jadinya. Tetapi aku teringat, aku adalah lelaki remaja, anak sulung, dan satu-satunya anak lelaki di keluarga ini. Jika aku menangis, siapa yang akan menenangkan ibu dan adikku? Siapa? Siapa yang akan menguatkan mereka akan takdir ini? Aku harus kuat.
Berbeda denganku. Ibuku yang berparas elok itu sekarang pucat pasi. Ia sudah lemas dari tadi. Untung saja banyak tetangga yang segera membantu. Tak terkecuali adikku. Dia yang paling keras suara tangisnya. Padahal dia yang paling keras suara bentakannya. Entah mengapa ia berubah secepat itu. Dia jadi lebih banyak diam, kemudian menangis lagi menyebut-nyebut bapak.
Ya, bapak telah tiada. Orangtua hebatku itu sudah tak ada dalam raga dan jiwanya. Beliau sudah meninggalkan kami dengan semua wasiat dan kenangan yang ada. Mungkin tuhan lebih menyayanginya.
꧁✧✦❉❀❉✦✧꧂
Ketika sang surya digantikan oleh kehadiran rembulan, jenazah bapak sudah dimakamkan. Ibu memanggil kami berdua ke kamar yang ditutupi selambu Kumal itu. Ya, kami masih berada di rumah kayu -yang sekarang tak ada lagi kehangatan-. Ibu menyuruh kami duduk berhadap-hadapan dengan beliau. Ibu ingin menyampaikan sesuatu.
“Mas... Nduk... Ibuk tahu kalian masih terpuruk dengan kenyataan ini. Tapi ibuk yakin, pasti kalian kuat menjalani hari-hari setelah ini. Kalian tahu? Sebelum bapak pergi meninggalkan kita, bapak berwasiat sesuatu.” Ibu pun menjelaskan wasiat bapak kepadaku dan juga adikku. Aku dan adikku lebih banyak diam, mengangguk-angguk memahami kata demi kata kalimat ibu. Adikku menangis saat ibu menyelesaikan kalimatnya. Ia meraung-raung menyebut kata bapak Sampai matanya bengkak.
꧁✧✦❉❀❉✦✧꧂
Sejak saat itu kami -aku, adikku, dan ibuku- tinggal dirumah yang sudah diwasiatkan oleh bapak. Aku telah tumbuh menjadi pria tangguh dan kuat seperti apa yang diharapkan bapak. Ibuku sudah mengembangkan usaha dari modal yang diberi bapak. Adikku lebih menakjubkan lagi. Dia menjadi gadis yang tetap berparas elok nan menawan. Bedanya sekarang wajah eloknya itu tertutup sebuah kain. Menambah kharisma yang ia punya. Di dalam ucapannya sudah tak ada lagi kata-kata kasar yang terlontar. Ia tumbuh menjadi seperti apa yang diharapkan bapak. Ya. Seperti harapan bapak.

Komentar
Posting Komentar