SOSIS SIAPA INI? - AHLAN NAFAIS

   


 
“Tek Tek Tek…!” Suara jendela dipukul terdengar begitu jelas, hal ini membuat ku dan teman-teman ku terbangun dari mimpi yang indah. Belum sampai kami berada di alam sadar, Fathya sudah menarikku turun dari ranjang kasur. Kami pun segera ke kamar mandi, berkumur-kumur, membasuh muka, telinga, telapak tangan hingga siku, serta kedua telapak kaki. Setelah melakukan ritual wudhu, kami berjalan ke masjid melakukan sholat subuh berjamaah. Seperti pada pagi umumnya, kami selalu mendengarkan ceramah singkat dari bu Nyai kami. Meski dengan mata yang masih ingin menutup, juga dengan mulut yang terus memaksa terbuka. Namun meski begitu, telingaku tetap aktif dalam menyimak setiap kata yang diucapkan oleh bu Nyai. Tiap detik waktu berjalan, menghabiskan waktu dalam mendengarkan ceramah pagi ini, hingga terdengar ucapan salam penutup dari orang yang sedari tadi sudah mengeluarkan ilmu-ilmu berharganya. “Bersedekahlah dengan Ikhlas tanpa harus dipamerkan, karena sedekah yang dipamerkan akan sia-sia bahkan menghapus pahala sedekah itu, jangan sampai orang lain mengetahui bahwa kamu sedang bersedekah” Itulah kutipan yang masih ku ingat dari ceramah pagi tadi. Pada minggu pagi ini, kami selalu melanjutkan aktifitas dengan bersih-bersih kamar atau yang biasa kami sebut dengan roán. Kami memulai bersih-bersih dengan menyapu lantai kamar, dilanjut dengan mengembalikan barang-barang pada tempatnya, seperti selimut, bantal, guling serta buku-buku bacaan yang selesai dibaca oleh anak-anak. Seperti hari Minggu pada umumnya, Aku dan Fathya selalu menunggu kedatang orang tua kami ke pondok pesantren, biasanya mereka membawakan banyak sekali makanan, dan tentunya akan ku bagi-bagikan dengan teman-teman sekamarku.

    “Kapan ya kita bisa bebas?” celetukku “Ya, yang pasti saat kita sudah lulus, mengapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?” saut Fathya. “Ah gapapa, aku merasa masih kurang dalam melakukan kebaikan selama disini.” “Hei, apa maksudmu berkata seperti itu, dengan kamu memberikan senyuman pada orang-orang, kamu sama saja sudah bersedekah secara tidak langsung, Naf”’. “Hehe, iya juga ya, mungkin memang aku nya saja yang kurang ikhlas dalam mengikuti pondok pesantren ini.” “Bisa saja, atau aku tebak… kamu sedang kangen kedua orang tuamu ya?” Aku hanya tersenyum singkat saat Fathya mengatakan itu. Memang benar saja dari sebelum aku masuk pesantren, aku selalu ditemani oleh ibuku, jadi rasanya aneh saja jika aku hanya bertemu ibuku sekali dalam sebulan, atau bahkan bisa berbulan-bulan. Makanya aku tidak sabar untuk bertemu mereka hari ini. Biasanya mereka akan datang sekitar jam 10 an.

    “Panggilan atas nama Ahlan Nafa, ditunggu oleh walinya di kantor” Suara itu terdengar begitu keras melalui pengeras suara. Saat mendengar itu, aku segera bergegas memakai hijab dan turun untuk menjumpai kedua orangtuaku. Aku melihat mereka membawa banyak sekali nasi kotakan, bisa ku tebak pasti itu untuk aku bagikan kepada teman sekamar. “Bagaimana kabarnya putri cantik ayah?” Kata ayahku seraya aku salim kepadanya. “Alhamdulillah aku sehat-sehat saja, aku juga sudah mulai terbiasa dengan kehidupan disini.” Balasku, berharap ayahku tidak akan mengkhawatirkan keadaan ku disini. Kami pun menghabiskan waktu bersama, bertukar cerita, membiarkan waktu mengalir begitu saja. Hingga tiba dimana kami harus berpisah. Kedua orangtua ku harus segera pergi karena mereka ada meeting di grand mercure siang nanti. Sebenarnya aku sedikit sedih, karena aku masih merasa belum melepaskan semua rasa kangen ku terhadap mereka, namun apa boleh buat, aku juga harus memahami kepentingan mereka. “Nak, ini ibu bawakan nasi kotak, isinya ada sosis kesukaan mu. Nanti kamu makan bareng dengan teman sekamarmu ya, satu anak satu kotak. Okeeii?” Ucap ibuku dengan nada ceria.

    “Sosis yang biasa nya ibu bekali saat aku masih di sekolah dasar kan? wah aku tidak sabar ingin memakannya bersama teman-temanku nanti, terimakasih ibu, terimakasih juga abah” Jawabku sembari salim kepada mereka berdua yang akan pergi meninggalkanku. Aku pun membawa nasi kotak yang tadi mereka berikan kepadaku, karena jumlahnya cukup banyak, aku meminta bantuan kepada Fathya untuk membantuku membawa nasi kotak ini ke kamar kami. Dengan senang hati tentu Fathya membantuku, dia membawa sebagian nasi kotak yang aku bawa tadi. Setelah aku dan Fathya berhasil membawa nasi kotak ini, kami segera memanggil anak-anak untuk berkumpul. Kami menggelar karpet lebar sebagai alas yang akan kami gunakan untuk duduk bersama. Fathya membantu ku untuk membagi-bagi nasi kotak tadi, setiap anak mendapatkan jatah satu nasi kotak.

    “Bismillahirrahmanirrohim…” Ucap kami bersama sebelum kami siap menyantap nasi kotak ini. Saat ku buka nasi kotak ini, terlihat ada nasi kuning, beserta mie, tempe orek, nugget dan tidak lupa dengan sosis kesukaan ku, Tapi tiba-tiba saja… “Mengapa punyamu ada sosisnya, sedangkan punyaku tidak ada?” Tanya Fathya kepada Bilqis. “Ah aku tidak tahu, mungkin ini tergantung amal ibadah fath, hahaha” Balas Bilqis sambil tertawa puas melihat nasi kotak Fathya yang tidak ada sosisnya itu. Mendengar percakapan itu, aku sedikit bimbang untuk memberikan jatah sosis kesukaan ku ini untuk Fathya atau pura-pura tidak tahu dan lanjut menyantap nasi kotak ini, namun jika aku langsung memberikan jatahku ini, Fathya pasti juga akan menolaknya dengan alih-alih sungkan. Tapi aku teringat akan kutipan ceramah tadi pagi, bahwa sedekah tidak harus diketahui oleh yang menerima. “Fath… lihat ini, ternyata aku mendapatkan dua sosis, sepertinya yang menyusun nasi kotaknya ngantuk deh. Ini, ambillah punyaku” Ucapku, yang membuat fathya menoleh ke arahku.

    “Ah benarkah? berikan padaku sini” balas fathya dengan penuh semangat. “Ini” Ucapku seraya memberikan sosis tersebut kepada Fathya “Terimakasih naf, untungnya kamu menyadari bahwa kamu mendapatkan dua sosis, hampir saja aku tidak mendapatkannya.” Jawab Fathya sambil nyengir kuda. “Hahaha, iya sama-sama fath” balasku dengan tulus. Ya sebenarnya hanya ada satu sosis dalam nasi kotakku, tapi melihat fathya senang mendapatkan sosis itu, aku jadi merasa lebih senang. Biarkan saja fathya mengetahui bahwa aku mendapatkan dua sosis. Yang penting aku senang melihat temanku senang. 

Tentang Penulis: 
Ahlan Nafais, atau anak yang kerap disapa ahlan ini pasti selalu dikira anak laki-laki, padahal dia adalah anak perempuan yang sangat senang berolahraga. Salah satu olahraga kesukaannya adalah calisthenic. Ia lahir di Tangerang Selatan dan besar di Malang. Sebenarnya hidupnya cukup sering berpindah-pindah, Ia pernah menempuh pendidikan di Jakarta, Jombang, Jogja dan sekarang ia menempuh pendidikan di Malang, tepatnya di MA Almaarif Singosari.
@ahlannafa_ 

ANALISIS CERPEN :

  • Unsur Pembangun Cerpen

A. Unsur Intrinsik

1. Tema : Keikhlasan dan kekeluargaan 

2. Alur : Alur maju 

3. Latar : 
A. Latar tempat : Di Pondok Pesantren 
B. Latar waktu: Minggu pagi 
C. Latar suasana : Kerinduan 

4. Tokoh dan penokohan 
a. Tokoh protagonis : Aku atau Nafa, Fathya, Orang Tua nafa, Bu Nyai 
b. Tokoh antagonis : Tidak ada 

5. Sudut pandang : Sudut pandang orang pertama, karen dalam cerpen tersebut si “aku”mengisahkan kesadaran diri sendiri. 

6. Amanat :
1. Jadilah orang yang suka melihat orang lain senang 
2. Hormat dan memahami kesibukan orang tua kita 

B. Unsur Ekstrinsik

A. Latar belakang pengarang : Pengarang lahir di Tangerang Selatan 

B. Nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra : 
1. Nilai moral : Salim kepada orang tua 
2. Nilai sosial : Senang membuat orang lain senang

  • Tahapan Alur Cerpen
A. Tahap pengenalan : Ditandai dengan sorotan kuning muda 
B. Tahap Pemunculan Konflik : Ditandai dengan sorotan hijau muda 
C. Tahap Puncak Masalah : Ditandai dengan sorotan biru muda 
D. Tahap Penurunan Konflik : Ditandai dengan sorotan ungu muda 
E. Tahap Penyelesaian : Ditandai dengan sorotan merah muda

  • Kebahasaan dalam Cerpen
A. Menggunakan Verba Aksi : Ditandai dengan sorotan berwarna hijau 
B. Menggunakan Dialog : Ditandai dengan sorotan berwarna magenta, Dialog dituliskan dalam suatu kalimat langsung. Kalimat langsung diapit tanda petik (“...”) dalam penulisannya. 
C. Menggunakan Keterangan Waktu : Ditandai dengan sorotan berwarna abu-abu

Komentar