BAYANG DAN CAHAYA - ZIAN SAFARINA

Di pinggir kota, yang sunyi dan berbisik lirih
Laila bermimpi, memegang pena di tangan yang terasa perih
Halaman buku, menjadi saksi bisu impiannya
Namun bayang takut, merenggut keberaniannya.

Kata-kata indah, terperangkap dalam benak,
Takut membayang, jiwa kian berjarak.
Novel pertama,di kafe kecil
Membeku sepi menjadi judul

Tiba seorang kakek, keriput wajahnya bijak,
Senyumnya teduh, menembus dinding sesak.
“Nak,” suara lembut, “jangan takut terjatuh,
Setiap langkah kecil, cerita kan tumbuh.”

“Menulis bukan tentang sempurna yang dicari,
Tapi tentang berani, mimpi di hati.”
Di sudut hatinya, cahaya mulai merekah,
Keyakinan tumbuh, seperti bunga merekah.

Jari menari, di atas papan ketik,
Kata-kata mengalir, tak lagi terpelik.
Setiap kalimat, ada langkah kecil berani,
Menuju dunia mimpi, yang lama dinanti.


Komentar