HARAPAN DI BAWAH LANGIT SENJA - AULIA RAMADHANI

Di rumah kayu beratap daun,
Cinta tumbuh dalam kesederhanaan,
Tangan bapak berlumur peluh,
Demi kami, tanpa keluhan.

Ibu tersenyum dalam lelah,
Menyuguhkan hangat kasihnya,
Walau hanya singkong di meja,
Cintanya tetap terasa nyata.

Aku dan adik, dua jiwa berbeda,
Satu tunduk, satu bertanya,
Namun di balik keras katanya,
Ada hati yang mencari cahaya.

Bapak jatuh, tubuhnya lemah,
Namun doanya tak pernah patah,
Di sujud panjangnya, ia memohon,
Agar kami tetap teguh, tetap kokoh.

Lalu datang ujian berat,
Tanah tergadai, mimpi terhambat,
Tapi di antara luka dan duka,
Ada tangan Tuhan yang bekerja.

Kini bapak telah tiada,
Namun harapannya tak pernah sirna,
Aku tumbuh, adik berubah,
Mewujudkan mimpi yang ia jaga.

Di rumah yang dulu hanya angan,
Kami berdiri dalam kehangatan,
Dalam setiap langkah, dalam setiap doa,
Bapak tetap ada, selamanya.

Komentar