AHMAD NUR WAHID
AULIA RAMADHANI
M. ARIF BILLAH
PUTRI ANGGIA IZZATUR
RAYYAN SYAUQI F.
Suatu ketika saat terik matahari berada tepat diatas kepala, saat itulah bel berbunyi menandakan jam pelajaran telah selesai. Ruangan kelas sebelas MIPA tampak sangat kotor dan berantakan, kebetulan hari ini adalah jadwal piket Dzul, Cris, Yudas, Seli, dan Raib.
Adegan 1
( Dzul, Cristian dan Seli sedang membersihkan kelas dengan frustasi. Raib terlihat duduk di pojok sambil memainkan ponsel )
Dzul : “Cris, Seli, ini keterlaluan! Kelas kita kenapa bisa sekotor dan berantakan kayak gini sih? rasanya enggak mungkin selesai sebelum sore” ( tegas Dzul sambil terus mengepel )
Cris : “Iya nihh, aku udah capek banget padahal aku udah bantuin nyapu sama ngepel tadi!” ( dengan intonasi mengeluh )
Seli : “Aku udah buang sampah tadi, tapi masih banyak banget sampahnya. Dan Raib, dia malah asik main hp!” ( memasang muka masam )
Dzul : “Bantuin dong ra! Kapan kita mau selesai coba, kalok kamu terus mijitin hp mu itu!” ( sedikit geram )
Raib : “Apaan sihh, aku kan tadi udah ngehapus papan tulis kok kamu ngatur sih! Tau gitu aku bayar denda aja tadi” ( intonasi suaranya menaik tidak terima )
Seli : ( melihat raib ) “Kamu ini! dikit – dikit bayar denda, cuman bersihin papan tulis aja ngeluh, lah kita bertiga bersihin dari ujung ke ujung!”
Cris : “Betul tuh, kamu ini cewek kok malas, harusnya kamu bantuin kita bertiga!” ( dengan nada sok bijak )
( Sambil berdiri memasukkan hp ke tasnya, Raib mendekati ketiga temannya )
Raib : “iyaaa... aku bantu, ngomong – ngomong si yudas tuh gak pernah piket masa aku terus yang disalahin?” ( berjalan mendekati ketiga temannya )
Dzul : “Ya udah lain kali jangan diulangi lagi! , tapi ada benernya tuh si yudas kemana ya kok gak kelihatan?” ( sambil menatap ke arah pintu )
Adegan 2
( Keesokan harinya Dzul dan Seli membahas masalah piket kemarin siang )
Seli : “Gimana nih Dzul? Cara nertibin si Raib dan Yudas mereka kan malas piket?” ( dengan tatapan penuh tanya kepada Dzul )
Dzul : “Iya nih, aku juga bingung gimana ya caranya mereka berdua bisa semangat piket?” ( sambil mengetukkan sepatu ke lantai )
Seli : “Parahnya itu si Yudas, udah gak pernah piket hampir sebulan, ditegur juga enggak mempan lagi. Apalagi dia juga kan yang sering buat kelas kita berantakan”
( Cris datang menghampiri kedua teman piketnya sambil membawa minuman )
Cris : “Wuihhh.... pada ngapain nihh, kok kayaknya lagi serius banget?”( sambil memasang wajah tanpa dosa )
Dzul : “Itu lho Cris, masalah dua anak piket kita yang lagi malas piket”
Cris : “oo... , terus gimana nih caranya supaya mereka bisa semangat piket, apa perlu kita aduin ke wali kelas? Atau...”
Seli : “Atau apa Criss?” ( dengan wajah penuh pertanyaan )
Cris : “Kita gebukian aja tuh pulang sekolah biar tahu rasa mereka, setuju gak Dzul?” ( tertawa terbahak – bahak sambil memegangi perut )
Seli : “ihh, apaan sihh nih anak gak bantu malah nambahin masalah”
Dzul : “Duhh gimana sihh, jelas enggak bakal selesai tuh masalah” (sedikit geram )
( Cris berhenti tertawa dan mulai memasang wajah serius )
Cris : “Oke lanjut, gimana nih enaknya?”
Dzul : “Kita lihat pekan besok kalau masih belum ada perubahan kita bakal ambil tindakan, gimana setuju gak?” ( sambil menatap Seli dan Cris bergantian )
( Seli dan Cris menganggukkan kepala bersamaan )
Adegan 3
( Pekan berikutnya, ketika Cristian, Seli dan Dzulkarnain sedang melaksanakan piket, tiba – tiba hal yang tak terduga terjadi )
Dzul : “uwekkk.. !” ( sambil berlari keluar kelas )
( Seli dan Cris saling bertatapan dengan ekspresi bingung melihat dzul )
Seli : “Lho kenapa dia Criss?”
Cris : “Tauk, pengen bab mungkin” ( memasang wajah tidak tahu )
( Dzul masuk ke kelas dengan wajah yang pucat )
Cris : “ Kenapa lhoo? Kok tiba – tiba lari?”
Dzul : “Kalian lihat tuh loker si Yudas!” (sambil menunjukkan bangku Yudas)
Seli : “( menghampiri bangku yudas dan melihat lokernya ) “hiiiii... kotor bangett, ini loker apa tpa. Kotor bangett ihh”
Cris : “Astagaa, nih anak udah males piket jorok lagi” ( ikut geram )
Dzul : “Terpaksa kayaknya kita harus ambil tindakan nih!” ( wajah serius )
Seli : “Iya, si Raib juga enggak ada nih, kita harus menasehati mereka berdua!” ( sambil melipat dua tangan di dada )
( Dzul dan Cris menjawab serempak )
Dzul dan Cris : “Setuju!” ( dengan mengangkat tangan )
Adegan 4
( Keesokan harinya saat waktu pulang sekolah Cristian mengumpulkan teman – teman piketnya di gazebo sekolah )
Yudas : “Ada apa nih, tumben ngajak gue rapat?” ( sambil memasang wajah tanpa dosa )
Raib : “Iya kayaknya penting banget nih.”
Seli : ( Menghembuskan nafas panjang dan mulai berbicara ) “ Iyaa ini penting banget soal masalah piket kelas” ( mencoba tetap tenang )
Yudas : “Lho kayaknya teman – teman yang lain pada enggak ada yang bermasalah?”
Raib : “Betul tuhh, kayaknya adem – adem aja.” ( sedikit tertawa )
( Dzul tidak tahan, ia berdiri dengan wajah merah padam menghujani kedua temannya menggunakan perkataannya )
Dzul : “MASALAHNYA INI KALIAN BERDUA MALAS – MALASAN PIKET, JOROK, DAN PARAHNYA ENGGAK PERNAH PIKET!”
( Yudas dan Raib terkejut mendengar hal itu, dan langsung menunduk tertegun karena tidak menduga hal itu terjadi. Akan tetapi Cris langsung menenangkan Dzul. )
Seli : “Udah – udah tenang dulu, enggak perlu marah.”
Dzul : “Aku udah muak Sel!” ( intonasi meninggi )
Cris : “Iya – iya aku ngerti kok Dzul tapi tenang dulu, wajar kok kamu kayak gitu kamu juga ketua kelas” ( ujar cris sambil menenangkan Dzul )
Yudas : “Maafin aku ya teman – teman aku salah banget enggak pernah ikut piket, aku juga sering menganggapnya hal sepeleh.” ( menatap Dzul, Cris dan Seli )
Raib : “Iya aku juga minta maaf, aku enggak pernah serius dan banyak main hp dan sekedar duduk – duduk, maafin aku juga karena egois dan tidak bertanggung jawab.” ( dengan wajah sedih dan merasa bersalah)
Dzul : “Gitu dongg sadarr!!! Kenapa sihh enggak dari dulu ajaa!!” ( memasang wajah puas )
Cris : “Nah, kalian berdua sekarang udah sadar kan, ayo kita kompak kalo piket kelas, biar kita makin rukun dan enggak kalah sama kelompok sebelah, dan tugas kita makin cepet selesaii.” ( dengan wajah bahagia )
Seli : “Iya, gimana teman – teman untuk kebaikan bersama?” ( melihat keempat temannya )
Raib dan Yudas : “Iya – iyaa untuk kebaikan bersama.”
Cris : “Gimana Dzul, kamu setuju tidak? kalok enggak ya udah aku keluarin dari anggota ini!” ( tertawa sambil mengacak rambut Dzul )
Dzul : “Yelahhh – yelahhhhh...”
Raib : “Sebagai perminta maafan dari aku,gimana kalok sekarang aku traktir nasi goreng di kantin, mau enggak kalian?”
( Mereka semua kompak tertawa bersama dan mengiyakan perkataan Raib )
JUDUL : ANTARA SAPU DAN EGO
TOKOH PENOKOHAN :
Dzulkarnain : Si ketua kelas yang tegas, bertanggung jawab dan disiplin. ( Sering kesal karena anggota piketnya tidak disiplin dan berusaha menyatukan teman – temannya )
Cristian : Si penengah, bijak, dan mudah bergaul. ( Berusaha menyelesaikan konflik yang dialami Yudas dan Raib )
Yudas : Si santai, tidak peduli dengan sekitar, dan pemalas. ( Jarang piket dan jadi sumber konflik dengan rekan piketnya )
Seli : Si paling sabar, tegas dan peduli. ( Selalu mengerjakan piket dengan baik dan rajin, tidak menunggu temannya menyuruh )
Raib : Si cerewet, maunya sendiri, egois dan sibuk dengan dunianya sendiri. ( Mencari pekerjaan piket yang mudah atau lebih memilih membayar denda dan lebih sering bermain hp )
TEMA : Tanggung jawab, kerja sama, dan disiplin, karena kerja kecil bisa berdampak besar.
LATAR :
Tempat : Kelas sebelas MIPA dan gazebo.
Suasana : Menegangkan, humor yang santai, dan canggung.
Waktu : Siang hari setelah pulang sekolah.
ALUR : Maju
EKSPOSISI : Suatu ketika saat terik matahari berada tepat diatas kepala, saat itulah bel berbunyi menandakan jam pelajaran telah selesai.
KONFLIK : Dzul : “Cris, Seli, ini keterlaluan! Kelas kita kenapa bisa sekotor dan berantakan kayak gini sih? rasanya enggak mungkin selesai sebelum sore” ( tegas Dzul sambil terus mengepel )
KLIMAKS : Dzul : “Kalian lihat tuh loker si Yudas!” (sambil menunjukkan bangku Yudas)
Seli : “( menghampiri bangku yudas dan melihat lokernya ) “hiiiii... kotor bangett, ini loker apa tpa. Kotor bangett ihh”
Cris : “Astagaa, nih anak udah males piket jorok lagi” ( sambil memegang hidung )
Dzul : “Terpaksa kayaknya kita harus ambil tindakan nih!” ( wajah serius )
Seli : “Iya, si Raib juga enggak ada nih, kita harus menasehati mereka berdua!” ( sedikit geram )
ANTI KLIMAKS : ( Keesokan harinya saat waktu pulang sekolah Cristian mengumpulkan teman – teman piketnya di gazebo sekolah )
RESOLUSI : Yudas : “Maafin aku ya teman – teman aku salah banget enggak pernah ikut piket” ( menatap Dzul, Cris dan Seli )
Raib : “Iya aku juga minta maaf, aku enggak pernah serius dan banyak main hp dan sekedar duduk – duduk.” ( dengan wajah sedih dan merasa bersalah)
Dzul : “Gitu dongg”
AMANAT : Bertanggung jawablah dalam segala hal karena setiap orang harus menjalankan tugasnya masing – masing tanpa membebani yang lain, satu orang yang tidak bertanggung jawab bisa menciptakan konflik dan merusak keharmonisan kelompok. Serta kerja sama yang dilakukan akan membuat pekerjaan yang berat menjadi ringan. Komunikasi yang baik sangatlah penting dibandingkan mengabaikan tugas. Dan menghargai usaha adalah sebuah bentuk kepedulian.
Komentar
Posting Komentar