Dalam dekap fajar yang baru terbit,
Alarm berteriak, mimpiku terusik.
Lima menit, kataku lirih,
Namun dunia memanggil, pelan tapi gigih.
Alarm berteriak, mimpiku terusik.
Lima menit, kataku lirih,
Namun dunia memanggil, pelan tapi gigih.
Aroma kopi menari di udara,
Ayah tersenyum dengan mata penuh cerita.
Roti kayu manis, manisnya nostalgia,
Menyambut pagi, hangatkan jiwa.
Pasar berdenyut dengan warna dan suara,
Langkahku menyusuri lorong penuh makna.
Sayur dan rempah menari di tangan,
Lili putih kubeli, untuk ibu tersayang.
Di perpustakaan sunyi, aku menjelajah,
Kisah desa, sejarah yang gagah.
Waktu terhenti di lembar-lembar usang,
Jejak masa lalu, terasa lapang.
Sore membawa tawa dan cerita,
Langkah di tepi sungai, penuh rasa.
Kami bicara tentang segalanya dan hampa,
Dalam kebersamaan, hati pun lega.
Makan malam, peluk hangat keluarga,
Canda, kisah, aroma cinta terasa.
Ayam panggang dan sayur dalam piring,
Tersaji bersama kasih tak berpinggir.
Malam tiba dengan sunyi bersahaja,
Teh di tangan, jangkrik bernyanyi mesra.
Aku duduk, menatap langit luas,
Merenungi hari, hati pun puas.
Inilah hidup, dalam sederhana iramanya,
Hari-hari tenang, kisah kecil yang nyata.
Dalam detik biasa, cinta tersembunyi,
Irama hari—syair hidup yang abadi.
Komentar
Posting Komentar