RETAKNYA SEBUAH ORGANISASI - KELOMPOK 2

Nama Kelompok :
PANDU HAIDAR W.
CACA ARISKA
NAILAH AZKA T.
ZAHROTUS SYIFA 
M. CHAMDAN NA'IM

RETAKNYA SEBUAH ORGANISASI 

ADEGAN 1 – RUANG OSIS, SIANG HARI

(Meja penuh berkas. Chamdan duduk sendiri, membuka map keuangan. Masuk Caca dan Pandu.)

Caca:

(Ragu-ragu) Kak Chamdan… aku perlu bicara. Ada kejanggalan di laporan pengeluaran kegiatan bulan lalu.

Chamdan:

(tenang) Maksudmu?

Caca:

Dana yang keluar lebih besar dari nota yang aku pegang. Ada selisih 1 juta rupiah. Aku cek semua nota dari bendahara sebelumnya juga, tapi tetap nggak cocok.

Pandu:

(Sambil mengamati) Aku juga curiga sejak kita minta laporan kemarin. Kak Chamdan, boleh aku tanya... siapa yang pegang kas tunai selama ini?

Chamdan:

(Sedikit defensif) Aku yang simpan, karena Caca sempat izin seminggu. Tapi aku nggak pernah pakai uang OSIS tanpa bukti.

Caca:

Tapi faktanya, uangnya nggak lengkap. Ini bukan soal percaya atau nggak. Ini soal tanggung jawab organisasi.

(Suasana mulai tegang. Azka masuk, membawa map berisi daftar pengeluaran.)

Azka:

Aku salin semua catatan. Dan... ternyata ada dua nota fotokopi yang persis sama, tapi tanggalnya beda. Kak Chamdan, ini kelalaian atau...?

Chamdan:

(Menatap tajam, lalu berdiri) Kalian pikir aku korupsi?

Pandu:

Bukan itu maksud kami. Tapi sebagai ketua, kamu harus jelaskan ini. Biar semua jelas, biar kita tetap utuh.

---

ADEGAN 2 – RUANG OSIS, SORE HARI

(Semua anggota duduk, termasuk Syifa. Suasana dingin. Ada rasa tidak nyaman.)

Syifa:

(Mencoba mencairkan suasana) Kak, mungkin ini cuma salah hitung? Aku yakin Kak Chamdan nggak akan pakai uang organisasi.

Caca:

Bukan soal yakin atau nggak, Syifa. Ini soal prosedur. Kalau pemimpin melanggar, organisasi bisa hancur.

Azka:

Kita harus laporkan ini ke pembina OSIS. Biar diselidiki.

Chamdan:

(Jengkel, menatap semua satu per satu) Kalian tega. Setelah semua yang aku lakukan... aku rela nggak pulang demi rapat, bela kalian di forum sekolah. Dan sekarang kalian... mau singkirkan aku?

Pandu:

Kami menghargai semua yang sudah kamu lakukan, Cham. Tapi kalau ada kesalahan, kita harus berani jujur. Ini bukan soal pribadi, ini soal integritas.

Chamdan:

(Suaranya lirih) Aku... aku benar-benar tidak ambil uang itu. Tapi aku nggak bisa buktikan. Notanya bukan aku yang buat...

(Semua saling berpandangan. Hening.)

---

ADEGAN 3 – LAPANGAN SEKOLAH, ESOK PAGI

(Pandu dan Caca bicara serius di bawah pohon.)

Caca:

Menurutmu Chamdan bohong?

Pandu:

Aku percaya dia. Tapi bisa saja ada orang lain yang manfaatkan situasi. Kita belum tahu.

Caca:

(Serius) Tapi kalau kita salah tuduh, kita hancurkan orang yang paling berjasa di OSIS ini.

Pandu:

Makanya aku bilang, kita perlu klarifikasi terbuka. Kita kumpulkan bukti. Jangan main tuduh.

(Azka datang sambil membawa HP.)

Azka:

Aku dapat chat dari staf TU. Mereka bilang ada siswa lain yang minta nota kosong dari koperasi sekolah minggu lalu... pakai nama OSIS.

Caca:

Siapa?

Azka:

Nggak jelas. Tapi katanya anak kelas X juga... bisa jadi bukan dari OSIS. Tapi kita harus cek.

---

ADEGAN 4 – RUANG OSIS, DUA HARI KEMUDIAN

(Chamdan duduk di kursi ketua. Wajahnya letih. Masuk Syifa dengan wajah bersalah.)

Syifa:

Kak… aku mau ngaku sesuatu...

Chamdan:

(Angkat kepala pelan) Apa?

Syifa:

Aku... waktu itu disuruh kakak kelas minta nota kosong ke koperasi, katanya buat keperluan dokumentasi. Aku nggak tahu itu dipakai buat laporan keuangan. Aku nggak bilang siapa-siapa karena takut...

Chamdan:

(Firasatnya benar. Dia berdiri pelan.) Syifa... kamu sadar ini bisa jadi masalah besar?

Syifa:

Iya. Tapi... aku nggak tahan lihat Kak Chamdan dituduh terus. Aku siap tanggung jawab.

(Masuk Pandu dan Azka, mendengar percakapan akhir itu.)

Pandu:

(Firm) Kita harus lapor ke pembina. Dan pastikan Syifa dilindungi. Dia korban, bukan pelaku utama.

Chamdan:

(Akhirnya tersenyum lemah) Terima kasih... atas kejujurannya.

---

ADEGAN TERAKHIR – RUANG OSIS, SEMINGGU KEMUDIAN

(OSIS kembali rapat. Kasus ditangani pembina, Chamdan dibebaskan dari tuduhan. Syifa diberikan pembinaan.)

Chamdan:

Aku hampir menyerah. Tapi kalian tunjukkan bahwa organisasi ini masih punya prinsip.

Caca:

Kita juga belajar, Cham. Jangan terlalu mudah curiga, tapi juga jangan abaikan prosedur.

Azka:

Dan mulai sekarang, semua harus transparan. Kita bangun ulang kepercayaan ini.

Pandu:

Kita bukan OSIS yang sempurna. Tapi kita bisa jadi OSIS yang jujur dan berani bertanggung jawab.

Syifa:

Terima kasih… karena nggak langsung buang aku. Aku janji, aku akan berubah.

(Mereka semua berdiri, saling tos tangan. Lampu panggung perlahan padam.)

Komentar