DAMPAK KURIKULUM MERDEKA PADA KUALITAS PEMUDA PEMUDI INDONESIA - FATCHUR ROCHIM ROFIAN

Pendahuluan

Tahun 2020 lalu, dunia dilanda krisis besar yang disebabkan oleh adanya pandemi Covid-19. Permasalahan ini berdampak di bidang pendidikan terbilang cukup serius, dimana Indonesia mengalami learning loss setara 6 bulan terkait literasi dan 5 bulan terkait numerasi. Learning loss ini merupakan hilangnya pengetahuan dan kemampuan siswa yang disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satu upaya untuk mengurangi dampak learning loss adalah dengan menerapkan kurikulum merdeka. Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim menyebutkan bahwa kurikulum merdeka ini merupakan bagian di dalam kebijakan Merdeka Belajar yang diluncurkan untuk mengurangi dampak loss learning yang disebabkan oleh pandemi Covid-19.


Isi 

Kurikulum merdeka merupakan suatu kurikulum yang memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk mempelajari apa yang diinginkan, walaupun tidak sesuai dengan jalurnya. Misalnya seorang siswa jurusan IPA ingin mempelajari tentang ekonomi, sosiologi, ataupun mata pelajaran IPS lainnya, hal ini diperbolehkan. Begitu juga sebaliknya, siswa IPS dapat mempelajari tentang biologi, fisika, dan mata pelajaran IPA lainnya jika mereka berminat. Penerapan kurikulum merdeka ini juga menimbulkan dampak yang dirasakan oleh siswa, guru, dan juga tenaga kependidikan lainnya. Dampak yang dirasakan ini pun terbagi menjadi dua, dampak positif dan dampak negatif. Dampak positif yang dirasakan oleh siswa diantaranya yaitu perubahan pada pembelajaran siswa. Dalam kurikulum merdeka siswa diberikan kesempatan untuk mengeksplorasi dan mengekspresikan minat belajarnya, hal ini bertujuan untuk membentuk siswa dengan jiwa kompetensi dan karakter yang baik. Selain itu, kurikulum merdeka ini juga berefek terhadap keaktifan siswa dalam belajar. Dari segi guru, kurikulum merdeka ini memiliki keterkaitan yang positif dengan pengembangan potensi guru dan juga platform merdeka mengajar. Hal ini dilihat dari adanya program Guru Penggerak dan Pendidikan Profesi Guru (PPG), dengan lahirnya pendidik yang berkualitas akan dapat mengembangkan serta menjaga kurikulum merdeka menjadi baik dan semakin baik lagi. Namun dampak negatif nya, untuk siswa yang kurang memiliki motivasi atau kesulitan dalam memahami pelajaran akan merasa terbebani dengan adanya kurikulum ini.siswa akan merasa tidak nyaman dan mungkin malah tidak mau menjalankan tugas lintas pelajaran. Memang sangat sulit untuk membangunkan minat dan semangat belajar siswa, namun hal ini tetap menjadi PR bagi tenaga dan bahkan penyelenggara pendidikan.


Penutup

Dari pemaparan diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa seperti apapun manusia menciptakan, mendesain dan mengembangkan suatu kurikulum pasti ada yang namanya pro dan kontra. Sehingga kita harus selalu belajar, memahami, dan mengadaptasi apa yang dimaksud dalam suatu kurikulum. Karena sejatinya kurikulum diciptakan untuk kepentingan anak bangsa, pastinya ada hal-hal baik yang sedang berusaha untuk disampaikan, dan nantinya diharapkan dapat membawa bangsa dan negara Indonesia menjadi lebih baik lagi.


Daftar Pustaka

Zuhdi, M. (2021). Dampak Pandemi Covid-19 terhadap Dunia Pendidikan dan Solusinya.

Sanan, Paskalis, S.Pd (2020). Kurikulum Merdeka bagi Pendidikan Indonesia


I. Sistematika :

Teks ini sudah disusun di dalam struktur insyaallah cukup jelas, dengan beberapa pembagian sebagai berikut:

1. Pendahuluan:

Menjelaskan latar belakang munculnya Kurikulum Merdeka, yaitu akibat learning loss selama pandemi Covid-19.

Memuat konteks perubahan kurikulum.

2. Isi/Pembahasan:

Menjelaskan apa itu Kurikulum Merdeka.

Menyampaikan dampak positif dan negatif dari penerapannya.

Mengaitkan peran siswa, guru, dan tenaga kependidikan.

3. Penutup/Kesimpulan:

Memberi simpulan umum.

Mengajak kita untuk bersikap bijak dan adaptif terhadap perubahan kurikulum.


Analisis Kebahasaan

1. Kesesuaian ragam bahasa:

Saya sudah menggunakan bahasa baku dan formal, sesuai dengan konteks akademik.

Tapi beberapa kata masih bisa diperbaiki untuk menjadi lebih efektif atau baku.

2. Ketepatan ejaan dan tanda baca:

Penulisan "dampak negatif nya" seharusnya "dampak negatifnya" (tanpa spasi).

Beberapa tempat seharusnya diberi koma agar kalimat lebih jelas.

Kata "loss learning" sebaiknya ditulis dalam bentuk yang lebih tepat: learning loss.

3. Diksi (pilihan kata):

Sudah cukup tepat, meskipun bisa lebih variatif.

Misalnya, “merasa terbebani” bisa diganti dengan “mengalami tekanan belajar” agar lebih spesifik.

Komentar