DIBALIK NILAI SEMPURNA - KELOMPOK 4

Di SMA Nusa Bangsa, Malang, hiduplah Siddiq, siswa teladan yang selalu berada di puncak kelas. Namun, di balik prestasinya yang cemerlang, ia menyimpan beban berat. Tekanan akademik yang luar biasa dan ekspektasi tinggi dari orang tuanya membuatnya merasa terkekang dan hampa. Ia merasa hidupnya hanya berupa rangkaian ujian dan prestasi, tanpa ruang untuk bernapas dan mengeksplorasi dirinya sendiri.

Suatu sore, setelah pelajaran berakhir, Siddiq bertemu Ian dan Denis , dua siswa nakal di sebuah lorong sekolah yang sedikit gelap
Lalu ian menyapa nya
Ian : Woiii!, Siddiq sini kau ( dengan suara lantang)
Siddip : Ada apa ian? Aku mau pulang nihh udah sore!
Denis : Udah lah kesini dulu
Siddiq : Kenapa manggil aku dan kalian ngapain di lorong yang gelap ini? ( dengan rasa bingung)
Denis : Kamu tuh ga liat kah kita lagi ngapain. ( sambil memegang botol alkohol)
Ian : Siddiq kamu mau minum ga? Nih aku ambil kan masih banyak ini (sambil mabuk )
Siddiq : ihhh ga lah, ngapain juga aku minum gitu an kan itu haram dan juga bisa merusak akal kita ( dengan nada tegas)
Denis : Udahh cepat minum! ( sambil cekokin siddiq)
Siddiq : uwehgg, minuman apa ini kok gini rasa nya? ( dia bingung dan agak mual)
Ian : Udah lahh, minum aja kita masih banyak loh ini mubazir kalo di buang
Denis : Iyaaah, enak kok Cuma kamu minum nya setengah – setengah jadi ga enak. Nihh minum segelas
Siddiq akhir nya luluh karna rasa penasaran yang besar
Siddiq : Ehmm enak juga ternyata ( dengan rasa senang)
Ian : Enak kan, udah habis kan saja semua!
Akhir nya Siddiq, ian, dan denis berpesta kecil sampai mereka mabuk berat

Di SMA Nusa Bangsa, Malang, hiduplah Siddiq, siswa teladan yang selalu berada di puncak kelas. Namun, di balik prestasinya yang cemerlang, ia menyimpan beban berat. Tekanan akademik yang luar biasa dan ekspektasi tinggi dari orang tuanya membuatnya merasa terkekang dan hampa. Ia merasa hidupnya hanya berupa rangkaian ujian dan prestasi, tanpa ruang untuk bernapas dan mengeksplorasi dirinya sendiri.
Lalu ian menyapa nya
Ian : Woiii!, Siddiq sini kau ( dengan suara lantang)
Siddip : Ada apa ian? Gue mau pulang nihh udah sore!
Denis : Udah lah kesini dulu
Siddiq : Kenapa manggil gue? Dan kalian ngapain di lorong yang gelap ini? ( dengan rasa bingung)
Denis : Kamu tuh ga liat kah kita lagi ngapain. ( sambil memegang botol alkohol)
Ian : Siddiq kamu mau minum ga? Nih aku ambil kan masih banyak ini ( sambil mabuk )
Siddiq : ihhh ga lah, ngapain juga gud minum gituan itu melanggar ( dengan nada tegas)
Denis : Udahh cepat minum! ( sambil cekokin siddiq)
Siddiq : uwehgg, minuman apa ini kok gini rasa nya? ( dia bingung dan agak mual)
Ian : Udah lahh, minum aja kita masih banyak loh ini mubazir kalo di buang
Denis : Iyaaah, enak kok Cuma kamu minum nya setengah – setengah jadi ga enak. Nihh minum segelas
Siddiq yang stress dengan hidup nya akhir nya luluh karna rasa penasaran nya dan mulai meminum alkohol bersama-sama
Suatu sore, setelah pelajaran berakhir, Siddiq bertemu Ian dan Denis , dua siswa nakal di sebuah lorong sekolah yang sedikit gelap
Zula, yang mengetahui kejadian itu, langsung menghampiri Siddiq.
Pada saat pagi nya
Siddiq : Kok badan ku lemes banget yahh apa karna aku meminum alkohol terlalu banyak? ( dengan rasa bingung)
Zula : Siddiq kamu kemarin ngapain sama mereka berdua? ( Rasa bingung dan marah)
Zula : Aku tau semua loh apa yang kamu lakukan dengan si brengsek – brengsek itu!
Siddiq : Hahhh iya kahhh? Heh zula jangan laporkan itu ke bu lia nanti aku kena score oleh sekolah! ( dengan rasa takut)
Zula : Maaf Diq, aku kemarin udah laporin kamu ke bu lia karena kamu udah keterlaluan banget, apa lagi kamu siswa yang pintar sama rajin loh kok bisa merusak dirimu dengan alkohol! ( dengan tegas)
Saat zula dan siddiq sedang berbicara tentang apa yang terjadi kemarin, tiba tiba bu lia memanggil siddiq untuk bertemu di ruang kantor bu lia
Bu lia : “ DIBERITAHUKAN SISWA BERNAMA SIDDIQ SEGERA KE KANTOR SEKARANG JUGA” ( panggilan bu lia dari kantor)
Siddiq : Waduhhhh, gimana ini zula aku di panggil ke kantor ( dengan rasa bingung dan panik)
Zula : Ya sudahhh, aku akan mendampingi mu karna aku saksi nya
Siddiq : Okelah kalo begitu ayo ke kantor sekarang
Mereka berdua pun berjalan dari kelas menuju kantor bu lia, dan sesampainya disana
Bu lia : Ehmm oke siddiq kemarin saya dapat laporan dari zula kalo kamu minum – minum bersama ian dan denis benarkah?
Siddiq : Iya bu, kemarin saya memang sedang minum alkohol bersama mereka ( jawab siddiq dengan rasa takut)
Bu lia : Hadeuhhh, gimana ya kamu tuh siddiq padahal kamu itu siswa yang pintar pasti bisa menilai mana yang baik dan buruk ( memberitahu dengan tegas )
Siddiq : Sebenarnya bu lia saya sudah bosan bu jadi anak pintar karena hal tersebut membuat saya merasa stress dan hampa dengan hidup yang gitu – gitu aja. Maka dari itu saya mencoba untuk mengikuti mereka berdua. Tapi hal tersebut juga tidak baik untuk diri saya sendiri juga ( dengan raut wajahnya yang sedih)
Bu lia : Hmmm begini siddiq, Kalau kamu merasa hidup mu hampa dan gitu-gitu aja kamu kan masih punya teman – teman yang lebih baik dan hebat. Ibu tau kok kalo kamu tuh orang nya susah bergaul dengan teman sekelas. Itu yang membuat mu merasa kalo sekolah tuh Cuma mencari ilmu. Dulu ibu tuh mencari ilmu tapi, ibu dulu nya juga mencari teman-teman yang baik dan hebat juga agar ibu bisa menjadi pribadi yang lebih baik juga, gitu siddiq ( menjelaskan dengan lembut)
Tiba tiba Ian lewat kantor ibu lia dan zula memanggil nya untuk bertemu dengan ibu lia
Zula : Woiii Ian, kemari ada bu lia tuh
Ian : Hahh iya kah? Loh siddiq kamu ngapain di sini?
Siddiq : Aku di panggil bu lia karena melanggar aturan sekolah.
Bu lia : Ian kamu ga mau berubah? Kamu sama denis kalau tidak segera berubah ibu akan score kalian berdua dan bisa saja keluar dari sekolah ini! ( dengan nada tinggi)
Siddiq : Bener Ian kamu harus merubah diri mu karena hal hal itu tak akan bisa membuat mu jadi pribadi yang lebih baik.
Ian : Iya sihh, kalo aku masih gini – gini aja, aku juga tak akan bisa menggapai masa depan juga ya kan.
Zula : nahh kalo gitu, kalian berdua cobalah untuk berteman dengan baik dan selalu mendukung mungkin aja kalian bisa menjadi teman yang punya frekuensi yang sama.
Lalu setelah itu mereka berdua mencoba untuk menjadi pribadi yang baik dan bergaul dengan teman-teman, tapi dari jauh denis melihat hal yang ia tak menduga lalu ia menghampiri mereka
Denis : Woiii ngapain kalian di sini ayo ikut aku ke toilet sekolah ada sesuatu yang menarik nihh
Siddiq : Gak lah den, makasih atas tawarannya
Ian : Iya den aku juga ga mau ngapain juga kita ke toilet mending kumpul gini enak.
Denis : Siddiq apa yang kamu lakukan ke si Ian? ( menarik baju Ian dengan perasaan marah)
Siddiq :Gue mengajak Ian untuk berubah, dan kamu juga harus berubah
Siddiq : Gue Cuma nggak mau lo terus-terusan kayak gini, Den. Lo sendiri juga nggak bahagia, kan?
Ian : Dia bener, Den. Gue capek. Capek ngelakuin hal-hal bodoh.
Denis : Lo berdua memang kurang ajar yaa!
Siddiq : Gue nggak mau liat lo terus-terusan hancur. Gue Cuma mau bantu lo.
Ian : Kita Cuma pengen lo berubah, Den. Cari jalan yang lebih baik.
Lalu perkelahian pun terjadi hingga mereka di lerai oleh teman – teman dan mengalami luka ringan
Siddiq dan Ian sedikit terluka, Denis terlihat murung dan menyesal.
Denis: (Suara pelan, hampir berbisik) Gue… gue nggak bermaksud..
Siddiq: (Menahan sakit di bibirnya) Gue tau, Den. Tapi lo harus sadar, cara lo salah.
Ian: (Mengusap luka kecil di tangannya) Kita semua salah, Den. Kita semua butuh perubahan.
Denis: (Menunduk) Gue… gue Cuma pengen diterima. Gue merasa sendirian. Kalian… kalian satu-satunya temen gue.
Siddiq: Tapi cara lo salah, Den. Persahabatan bukan tentang saling menghancurkan. Itu tentang saling mendukung.
Ian: Gue… gue juga merasa terbebani. Semua aksi-aksi kita… itu bikin gue nggak nyaman. Gue pengen hidup yang lebih baik. Bukan kayak gini terus.
Denis: (Mengangkat wajahnya, matanya berkaca-kaca) Gue… gue nggak tau harus gimana lagi. Gue merasa… kosong.
Siddiq: Kita bisa bantu lo, Den. Kita bisa cari jalan lain. Ada cara lain untuk merasa diterima dan bahagia. Nggak harus dengan cara yang salah.
Ian: Kita bisa coba hal baru bareng. Seperti berkumpul seperti ini di sekolah, atau… apapun yang bisa bikin kita merasa lebih baik.
Denis: (Menghela napas panjang) Gue… gue minta maaf. Kepada kalian berdua. Gue… gue bener-bener minta maaf.
Ruang kantor bu lia
Bu Lia: Baiklah, ceritakan semuanya dari awal. Jangan ada yang ditutupi.
Denis: (Menceritakan kehidupannya, rasa kesepiannya, dan bagaimana ia selalu merasa tidak diterima kecuali dengan Ian. Ia mengakui bahwa ia selalu merasa takut untuk berubah dan meninggalkan Ian karena takut sendirian)
Bu Lia: Jadi, Denis merasa tertekan karena takut kehilangan satu-satunya teman yang dimilikinya. Ia merasa tidak diterima oleh orang lain.
Siddiq: Kami mengerti, Bu. Tapi kami juga ingin Denis berubah. Kami nggak mau dia terus-terusan melakukan hal-hal yang salah.
Ian: Kami ingin membantu Denis menemukan teman-teman yang lebih baik, dan cara yang lebih sehat untuk mengekspresikan dirinya.
Bu Lia: Itu bagus. Sekarang, kita perlu mencari solusi bersama. Bagaimana jika Denis mencoba bergaul dengan teman-teman baik?
Denis: (Merenungkan usulan Bu Lia) Mungkin… mungkin bisa.
Bu Lia: Ingat, Denis, kamu tidak sendirian. Kami semua di sini untuk mendukungmu. Perubahan membutuhkan waktu, tapi itu mungkin. Yang penting adalah niat dan usahamu.

Kantin sekolah
Siddiq, Ian, dan Denis terlihat lebih akrab, bercanda dan tertawa bersama
Siddiq: Eh, Den, kamu udah daftar klub fotografi kan?
Denis: Udah, Dik! Seru banget! Aku baru belajar fotografi, tapi menyenangkan.
Ian: Gue juga seneng, Den. Lo sekarang lebih tenang.
Denis: Iya, gue merasa lebih baik sekarang. Makasih, ya, kalian berdua. Kalian temen terbaik.
Siddiq: Sama-sama, Den. Kita semua belajar dari kesalahan kita.
Ian: Sekarang kita punya persahabatan yang beneran. Persahabatan yang saling mendukung.
Denis: (tersenyum) Iya, persahabatan yang beneran.

Amanat cerita ini adalah pentingnya persahabatan yang sehat, mencari bantuan saat tertekan, dan menemukan jalan keluar yang positif untuk mengatasi masalah, bukan melarikan diri dengan cara yang salah.

Kelompok 4:

-Najwa Firdausi Nuzula

-Chelsi Amelia

-Faiq Nawal

-Hasbi Assidiqi

-Fathur Rochim

 

Komentar