Di hari Jumat yang cerah berseri,
Langit biru, hati pun menari.
Tantangan datang tak terduga,
Dari Arga si tukang menggoda.
Kupanjat pohon penuh percaya,
Meski larangan terngiang di kepala.
Dahan patah, tubuh terhempas,
Rasa sakit dan pipi pun memanas.
Tatapan teman, bisik tak henti,
Ingin rasanya aku bersembunyi.
Pak Hasan dan Bu UKS membantu.
Namun badanku tetap membatu.
Kini pohon itu bukan sekadar tinggi,
Tapi lambang pelajaran dalam diri.
Keberanian harus dibarengi nalar,
Agar tak jatuh dan menyesal besar.
Jumat itu tak lagi biasa,
Ia ajarkanku arti dewasa.
Dari luka dan malu yang kurasa,
Tumbuh bijak di jiwa yang muda.
Komentar
Posting Komentar