SELAMATKAN BUMI DARI SAMPAH DAN POLUSI SEKARANG - TIARA LINTANG SUROYYA

Krisis lingkungan semakin terasa di berbagai penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Mulai dari penumpukan sampah, pencemaran udara, hingga kerusakan ekosistem air menjadi ancaman nyata yang tidak dapat diabaikan. Berbagai kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, hingga Malang, menghadapi persoalan lingkungan yang kian kompleks.

Kondisi ini menuntut kesadaran kolektif dan tindakan nyata dari seluruh lapisan masyarakat. Penanganan masalah lingkungan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, melainkan harus melibatkan sektor swasta, komunitas lokal, dan individu. Lingkungan yang sehat adalah hak semua makhluk hidup, dan menjaganya adalah tanggung jawab bersama.

Salah satu isu lingkungan yang paling mendesak adalah pengelolaan sampah. Berdasarkan data dari Pemerintah Kota Malang, pada tahun 2024 jumlah timbulan sampah harian mencapai lebih dari 700 ton. Meski 98,68% sampah telah berhasil dikelola, tantangan tetap besar terutama dalam pengurangan volume sampah dari sumbernya. Program seperti Bank Sampah dan TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle) telah diterapkan di banyak wilayah dan terbukti meningkatkan efisiensi pengelolaan limbah padat rumah tangga.

Di sisi lain, kualitas udara di kota-kota besar juga menurun akibat meningkatnya emisi kendaraan bermotor dan aktivitas industri. Data dari Dinas Kesehatan menunjukkan bahwa paparan polusi udara berisiko meningkatkan gangguan pernapasan dan penyakit kronis. Upaya pengurangan polusi melalui penerapan kendaraan listrik, penambahan ruang terbuka hijau, dan pembatasan emisi industri mulai diterapkan, tetapi masih perlu diperkuat.

Kelestarian air pun menjadi isu yang tidak kalah penting. Pencemaran sungai akibat limbah rumah tangga dan industri mengancam ketersediaan air bersih. Pengelolaan air limbah dan pelestarian daerah aliran sungai (DAS) merupakan langkah-langkah strategis yang harus diprioritaskan, terutama di wilayah padat penduduk dan industri.

Masalah lingkungan hidup tidak akan selesai tanpa partisipasi aktif semua pihak. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha untuk mewujudkan ekosistem yang lestari. Edukasi berkelanjutan, pengawasan ketat, serta inovasi dalam pengelolaan sumber daya sangat penting dilakukan. Jika tidak segera bertindak, generasi masa depan akan menanggung dampak dari kelalaian kita hari ini. 

DAFTAR PUSTAKA

Pemerintah Kota Malang. (2025). 98,68 Persen Timbulan Sampah di Kota Malang Berhasil Dikelola. Diakses dari https://malangkota.go.id/2025/02/03/9868-persen-timbulan-sampah-di-kota-malang-berhasil-dikelola/

Arief, S. (2013). Pengelolaan Sampah Malang Raya Menuju Pengelolaan Sampah Terpadu Berbasis Partisipasi Masyarakat. Jurnal Humanity.

Ma’rufi, I., & Khoiron, K. (2010). Analisis Kebijakan Pengelolaan Sampah Perkotaan di Kota Malang. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, 6(1).

Dinas Kesehatan Kota Malang. (2024). Dampak Polusi Udara Terhadap Kesehatan Masyarakat.

Fachreza, M. Z., Hanafi, I., & Wismanu, R. E. (2023). Implementasi Kebijakan Pengelolaan Sampah Perkotaan Berbasis Integrated Waste Management di Kota Malang. Brawijaya Knowledge Garden.

Analisis Kebahasaan

a. Menggunakan Ragam Bahasa Baku

Teks memakai bahasa resmi sesuai EYD.
Contoh: "Pengelolaan air limbah dan pelestarian daerah aliran sungai merupakan langkah strategis."
Tidak ada kata tidak baku seperti “nggak” atau “gimana”.

b. Menggunakan Kata yang Tidak Bersifat Pribadi

Tidak memakai kata “aku” atau “saya”, melainkan bentuk umum.
Contoh: “Masalah lingkungan hidup tidak akan selesai tanpa partisipasi semua pihak.”

c. Menggunakan Kalimat Pasif

Fokus pada tindakan, bukan pelaku.
Contoh: “Paparan polusi udara berisiko meningkatkan gangguan pernapasan.”

d. Menggunakan Bahasa Reproduktif

Informasi dari sumber disusun ulang dengan kalimat sendiri.
Contoh: Data dari pemerintah tentang pengelolaan sampah diolah menjadi uraian:
"Pada tahun 2024, 98,68% sampah di Malang berhasil dikelola..."

e. Menggunakan Bahasa Denotatif

Menggunakan makna kata yang sebenarnya, bukan kiasan.
Contoh: “Sungai tercemar oleh limbah industri.” — bukan metafora atau majas.

 

Komentar