TERJEBAK LAYAR: FENOMENA NOMOPHOBIA DI KALANGAN PELAJAR SMA - M. SHOLEH AZIZI

Di era digital seperti sekarang, kehidupan kita sangat tergantung pada perangkat mobile seperti handphone dan laptop. Namun, kemudahan yang ditawarkan teknologi ini ternyata juga membawa dampak negatif. Salah satunya adalah fenomena nomophobia (no mobile phone phobia), yaitu rasa takut atau cemas yang berlebihan saat tidak dapat menggunakan perangkat mobile. Di kalangan siswa SMA, fenomena ini semakin sering dijumpai dan dapat mempengaruhi aspek psikologis, akademik, dan sosial.

Nomophobia pertama kali diperkenalkan sebagai istilah dalam sebuah studi oleh YouGov di Inggris pada tahun 2008. Istilah ini menggambarkan perasaan tidak nyaman, gelisah, bahkan panik ketika seseorang tidak bisa mengakses ponsel atau jaringan internet.


Beberapa penyebab utama nomophobia di kalangan siswa SMA antara lain:

1) Tekanan sosial dan eksistensi digital, seperti keinginan untuk terus eksis di media sosial.

2) FOMO (Fear of Missing Out), yaitu rasa takut tertinggal informasi atau tren terbaru.

3) Pembelajaran berbasis digital, terutama setelah pandemi COVID-19, yang membuat siswa semakin terbiasa menggunakan gawai.

4) Kurangnya kontrol diri, terutama pada manajemen waktu menggunakan gadget.


Dampak nomophobia tidak bisa dianggap remeh. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Universitas Indonesia (UI) pada tahun 2023 terhadap 500 siswa SMA di Jabodetabek, ditemukan bahwa:

58% siswa mengaku sulit fokus saat belajar karena terganggu notifikasi ponsel.

47% mengalami gangguan tidur karena menggunakan ponsel hingga larut malam.

34% mengalami kecemasan berlebih saat tidak membawa ponsel.

25% mengalami penurunan nilai akademik akibat kurangnya konsentrasi.


Beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi dampak nomophobia antara lain:

1. Menerapkan digital detox, yaitu membatasi waktu penggunaan gadget setiap harinya.

2. Mengadakan edukasi literasi digital di sekolah, termasuk bahaya nomophobia.

3. Mengganti waktu layar dengan kegiatan fisik atau sosial langsung, seperti olahraga dan diskusi kelompok.

4. Peran orang tua dan guru dalam mengawasi serta memberi contoh penggunaan teknologi yang sehat.

Nomophobia bukan sekadar kecanduan gadget, tapi juga gejala psikologis yang dapat mengganggu perkembangan mental dan sosial remaja. Dengan meningkatnya kesadaran dan edukasi, siswa SMA dapat belajar menggunakan teknologi secara bijak, tanpa kehilangan keseimbangan hidup di dunia nyata.

Komentar