Rembulan sabit, saksi bisu pilu nan sunyi,
Ponsel usang, cermin retak, kenangan berbisik sayu.
Bukan dunia maya, namun potret kasih terukir,
Kakek Harjo, maestro wayang, senyumnya kini sirna.
Jari keriput, mengukir kisah, hidup bernyawa,
"Dunia lebih luas," bisikan lembut, hati terbawa.
Namun Naya, terlena cahaya digital, keindahan nyata terlupa.
Kini sunyi, hanya bayang-bayang, desah angin berlalu,
Foto kenangan, tawa riang, jejak langkah yang tak terulang.
Air mata membasahi, layar retak, cermin jiwa terluka.
Hangat sentuhan, suara mengalun, aroma kayu jati,
Keindahan nyata, kini baru terasa, dalam sunyi hati.
Ponsel terpejam, langkah menuju warisan leluhur,
Dunia nyata, pelukan abadi, jiwa menemukan nur.
Komentar
Posting Komentar